Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Pangkep Disebut Masuk Daftar Gizi Buruk, Ini Tanggapan Kadis Kesehatan

Kepala Dinas Kesehatan Pangkep, dr Indriaty Latief menanggapi terkait Pangkep masuk kategori gizi buruk.

Penulis: Munjiyah Dirga Ghazali | Editor: Suryana Anas
TRIBUN TIMUR/MUNJIYAH DIRGA GHAZALI
Kepala Dinas Kesehatan Pangkep, dr Indriaty Latief 

TRIBUNPANGKEP.COM, PANGKAJENE-- Kepala Dinas Kesehatan Pangkep, dr Indriaty Latief menanggapi terkait Pangkep masuk kategori gizi buruk.

Dia langsung menanggapi hal tersebut saat dikonfirmasi TribunPangkep.com, Kamis (31/1/2019).

"Persoalan gizi buruk itu bukan cuma masalah kesehatan. Tetapi semua lintas sektor harus terlibat mulai dari keluarga, posyandu, pemerintah desa hingga badan ketahanan pangan," kata Indry.

Menurut Indry, saat ini dikatakan gizi buruk karena hanya melihat indikatornya yakni berat badan dan umur, padahal banyak faktor yang menyebabkan gizi buruk.

"Ada tiga faktor seperti kecukupan pangan untuk dia makan, bagaimana daya beli masyarakat, harus didukung juga dari pertanian dan perikanan masuk di dalamnya," ungkapnya.

Indry bahkan, menjelaskan gizi buruk itu tidak akan terjadi jika pemanfaatan lahan pekarangan digalakkan dengan baik.

"Itu juga pemanfaatan lahan pekarangan harus digalakkan agar orangtua tidak beli sayur diluar dan memberikan sayur itu kepada anaknya. Sama juga dengan ikan itu harus digalakkan makan ikan untuk mereka," ujarnya.

Indry menyebut, gizi buruk tidak mesti dilihat dari umur, dia mencontohkan ada anak yang umurnya 3 tahun beratnya 15 hingga 16 kg itu dikatakan kurus padahal mereka sehat.

"Contoh umur seperti itu yang kadang membuat daerah itu dikatakan gizi buruk cuma memang frekwensi makannya berkurang, tetapi anak itu sehat dan tidak sakit kok," tegasnya.

Indry mengaku solusi yang sekarang ini mendesak pemerintah desa untuk membantu Dinas Kesehatan Pangkep.

"Kita harus lintas sektor, semisal di desa itu pak desa bisa anggarkan dana untuk para bayi dan balita disana, peran PKK desa juga sangat membantu meminimalisir gizi buruk dengan pemberian informasi edukatif bagi para ibu-ibu di wilayahnya," katanya.

Indry juga menyarankan, meminimalisir gizi buruk di Pangkep juga dilakukan dengan cara menggalakkan posyandu di desa-desa agar diaktifkan kembali.

"Dinkes itu ada pada hasil akhirnya, pemberian vitamin-vitamin balita dan pemberian gizi yang menunjang tumbuh kembang anak, jadi tidak semua dibebankan ke Dinkes semua sektor harus terlibat aktif," jelasnya.

Sebelumnya diberitakan, Senin (28/1/2019) DPD Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) Sulawesi Selatan menyebut di Sulsel ada tujuh kabupaten yang masuk kategori ‘Hitam’ terkait masalah gizi (jumlah gizi buruknya tinggi) yakni Enrekang, Sinjai, Tana Toraja, Toraja Utara, Pangkep, Maros dan Bone.

Baca: Film Toy Story 4 Meluncur dengan Tampilan Bo Peep yang Lebih Keren! Lihat Teaser Terbarunya di Sini

Baca: 4 Pemain Ini Akhirnya Teken Kontrak di Persebaya, PSM Makassar, PSIS Semarang, dan Kalteng Putra

Baca: Hari Jumat Pahing; TGB, Kiai NU & Muhammadiyah Ulas Buku Keislaman Jokowi di Solo

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved