Gempa Palu Donggala

Jurnalis dan Relawan Palu Keluhkan Mahalnya Harga Tiket Pesawat

Batik Air, maskapai milik Lion Air, juga menjual tiket penerbangan pukul 17.55 – 19.00 Wita, di kisaran Rp 849 ribu

Jurnalis dan Relawan Palu Keluhkan Mahalnya Harga Tiket Pesawat
dok_tribun_timur
Pesawat Lion Air di Bandara Mutiara SIS AlJufrie, dental latar belakang perkampungan dan bangunan hunian sementara (hurtara) pasca-gempa-tsunami, dan likuefaksi di Petobo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Minggu (4/11/2018). 

PALU, TRIBUN —  Di pekan pertama dari 60 hari masa transisi pemulihan bencana di tiga wilayah (Kota Palu, Donggala dan Sigi), relawan masih mendominasi kabin penumpang dan cargo pesawat, dari dan keluar Palu.

Tingginya harga jual tiket yang ditawarkan tujuh maskapai penerbangan sipil dalam sehari dari Bandara Mutiara SIS AL Jufri, Palu, mulai dikeluhkan sejumlah relawan, jurnalis dan aktivis.

Sejatinya, di masa Kebangkitan Palu inilah, pihak maskapai menujukkan keberpihakannya kepada masa pemilihan provinisi berpenduduk 2,6 juta jiwa di tengah Pulau Sulawesi ini.

Baca: Gempa Mamasa Turut Dirasakan Warga Luwu Utara

“Bagaimana relawan bisa masuk, dan pihak luar, maskapai pasang tarif tinggi,” kata Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Palu, Muhammad Iqbal di Sekretriat AJI dan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Kota Palu, Jl Rajawali No 28, Kelurahan Jolu Utara, Palu Timur, Kota Palu, Sabtu (3/11/2018).

Dari laman ticketing Google, misalnya, harga jual tiket Ujungpandang (UPG) ke Palu (PLW), di akhir pekan awal Oktober ini, penumpang membayar Rp1,3 juta untuk maskapai Sriwijaya Air di penerbangan pertama, 05.45 wita.

Biasanya harga normal hanya berkisar Rp 620 ribu, untuk harga tertinggi.

Batik Air, maskapai milik Lion Air, juga menjual tiket penerbangan pukul 17.55 – 19.00 Wita,  di level Rp 849 ribu.

Sedangkan Garuda Airlines, satu dari tujuh maskapai yang terbang ke barat Indoenesia saban hari, berkisar Rp1,46 juta sekali jalan.

Di masa Tanggap Darurat, atau empat pekan pasca-gempa, mulai 29 September hingga 26 Oktober 2018, masih banyak pesawat militer dan komersil yang memberikan tumpangan ke penumpang dengan harga normal bahkan gratis, seperti yang disediakan TNI Angkatan Udara.

Ketua PMI Kota Makassar Syamsu Rizal MI, menyerahkan secara langsung bantuan school kit dan juga tenda yang akan difungsikan sebagai sekolah sementara bagi anak-anak korban gemba dan tsunami di kota Palu, Selasa (30/10/2018)
Ketua PMI Kota Makassar Syamsu Rizal MI, menyerahkan secara langsung bantuan school kit dan juga tenda yang akan difungsikan sebagai sekolah sementara bagi anak-anak korban gemba dan tsunami di kota Palu, Selasa (30/10/2018) (HANDOVER)

Baca: Dua Jenazah Tertimbun Lumpur Likuifaksi Petobo Palu Kembali Ditemukan

“Banyak teman-teman jurnalis dari luar Sulteng mengeluhkan tingginya harga tiket. PAdahal seperti Lion Air, yang kini lagi mendapat efek buruk publikasi menyusul insiden jatuhnya pesawat JT-610 (Jakarta-Pangkalpinang), 29 Oktober lalu, LIon Air butuh citra bagius,” ujar Iqbal

Relawan Bosowa Peduli Marini, juga mengeluhkan melambungnya harga tiket pasca-gempa.

“Saya suah dua kali ke Palu sejak gempa, tapi selalu membayar tiket diharga diatas Rp800 ribu dari Makassar.”

Padahal menurut stah humas Bosowa Corporation ini, relawan ini datang untuk ikut membanglitkan kehiduoan normal di ibu kota provinis berpenduduk 320 ribu.

Penulis: Fahrizal Syam
Editor: Thamzil Thahir
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved