Tribun Wiki
TRIBUNWIKI: Sejarah Ukiran Toraja, Ini Empat Dasar Ukiran Toraja Garonto’ Pasura’
Garonto’ Pasura’ ini biasanya terdapat di Rumah Tongkonan maupun bangunan-bangunan yang dianggap perlu untuk diukir.
Penulis: Ina Maharani | Editor: Ina Maharani
Makassar Tribun - Kabupaten Tana Toraja yang dikenal sebagai suku seribu budaya menyimpan banyak keunikan dan kebudayaan tersendiri. Kebudayaan-kebudayaan yang ada merupakan warisan leluhur yang masih lestari sampai saat ini.
Tana Toraja tak hanya memiliki ritual budaya, tetapi juga memiliki sejumlah kebudayaan dalam bidang seni rupa, salah satunya yaitu ukiran.
Ukiran Toraja adalah kesenian ukir Melayu khas suku bangsa Toraja Sulawesi Selatan. Ukiran ini dicetak menggunakan alat ukir khusus di atas sebuah papan kayu, tiang rumah adat, jendela, atau pintu.
Seperti dilansir estetikapers.com, ukiran Toraja biasanya menggunaan motif ukiran yang bermacam-macam, anatara lain, cerita rakyat, binatang yang disakralkan, benda di langit, peralatan rumah tangga atau tumbuh-tumbuhan.
Ada 130 jenis Passura’ (ukiran) dan semuanya merupakan pengembangan dari empat dasar ukiran yang dalam bahasa Toraja disebut dengan Garonto’ Pasura’.
Garonto’ Pasura’ ini biasanya terdapat di Rumah Tongkonan maupun bangunan-bangunan yang dianggap perlu untuk diukir.
Berikut empat dasar ukiran Toraja seperti dilansir estetikapers.com
1) Pa’Tedong
Dari puluhan jeniis ukiran Toraja, ukiran inilah yan paling sering digunakan. Dimana ukiran ini berarti Tedong “Kerbau”, mengapa disebut dengan kerbau karena ukiran ini memiliki motif seperti tanduk kerbau.
Makna dari ukiran ini adalah sebagai lambing kesejahteraan dan kemakmuran bagi masyarakat Toraja dan keluarga. Ukiran ini sring dijumpai pada dinding kantor pemerintahan.
2) Pa’Barre Allo
Ukiran jenis ini menyerupai bulatan matahari dengan pancaran sinarnya. Jenis ukiran ini banyak ditemukan pada bagian muka dan belakang rumah adat Tana Toraja, pada bagian atas berbentuk segitiga (Para Longa).
Makna dari ukiran ini adalah percaya bahwa sumber kehidupan dan segala sesuatu yang ada di dunia ini berasal dari Puang Matua (Tuhan yang Maha Esa), ataupun sebagai ilmu pengetahuan dan kearifan yang menerangi layakanya matahari.
3) Pa’ Manuk Londong
Pa’Manuk Londong adalah ukiran yang menyerupai Ayam Jantan. Biasanya ukiran ayam jantan ini diletakkan diatas ukiran Pa’Barre Allo yang banyak dijumpai di rumah adat Tongkonan.
Makna dari ukiran ini adalah sebagai lambang keperkasaan dan kearifan laki-laki/ pemimpin, serta aturan atau norma hukum (adat) dimana seorang pemimpin ini bersifat tegas dan bijaksana.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/ukir-tongkonan-2_20160529_233146.jpg)