Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Tribun Wiki

TRIBUNWIKI: Ballo Tidak Selamanya Pahit

Jika cairan itu tidak dicampurkan dengan bahan apapun, ia akan tetap manis dan menjadi Ballo’ Te’ne’ atau “Tua’ Cenning”.

Editor: AS Kambie

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Ballo’ (Bahasa Makassar, dalam Bahasa Bugis disebut Tua’) adalah cairan yang diperoleh dari pohon Lontar melalui proses penyadapan.

Minuman ini sudah dikenal sejak zaman I La Galigo, jauh sebelum Kerajaan Gowa, Kerajaan Bone, dan kerajaan lainnya di Sulawesi muncul.

Belum diperoleh kesepakatan oleh ahli sejarah, kapan orang Bugis-Makassar-Mandar-dan Toraja mulai mengenal ballo’.

Dalam berbagai literatur tentang cerita tradisi Bugis-Makassar, ballo’ menjadi sajian pelengkap kaum bangsawan menyambut tetamu. Ia kerap ditandemkan dengan daun Sirih.

Ballo’ atau Tua’ dikenal di seluruh wilayah Sulsel, hingga pelosok desa. Di mana ada Pohon Lontar berdiri, berarti di situ berpotensi besar menghasilkan Ballo’ atau Tua’.

Ballo’ Te’ne’ dijajakan di Jeneponto, di sepanjang Jl Poros Makassar-Jeneponto. Awalnya, Ballo’ Te’ne ini dijajakan dalam botol bekas air mineral.

Lalu, sekitar tahun 2008, aktivis asal Jeneponto mendirikan Paguyuban Lontara Sakti yang menghimpun“pengusaha” dan “produsen” Ballo’ di Butta Turatea.

Lewat Paguyuban Lontara Sakti ini, Mukhtar memprakarsai hadirnya ballo dalam kemasan khusus, . Mukhtar Tompo yang juga anggota DPRD Sulsel Periode 2009-2014 dan anggota DPR RI periode 2014-2019 ini, bekerja sama dengan sejumlah intansi untuk memberdayakan petani penghasil Ballo’.

Proses Penyadapan
Pohon Lontar bisa disadap untuk menghasilkan ballo’ setiap saat. Pangkal cikal bakal buah (bunga) Lontar dipotong. Lalu batang bambu sepanjang sekitar 30 centimeter diikatkan di bawah potong pangkal tandan. Nah, cairan yang keluar dari tandan itulah yang ditampung di tabung bambu.

Jika cairan itu tidak dicampurkan dengan bahan apapun, ia akan tetap manis dan menjadi Ballo’ Te’ne’ atau “Tua’ Cenning”.

Untuk menghasilkan Ballo’ Kaccih atau Tua’ Pai’ (yang pahit), dicampurkan getah pohon lainnya. Biasanya dimasukkan potongan batang pohon duwet, dalam Bahasa Bugis-Makassar disebut “Coppeng” atau “Caloppeng”, beberapa centimeter untuk menghasilan Ballo’ Kaccih.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved