Ini Pandangan Ketua MUI Mamuju Soal Anjungan Pantai Manakarra Menyerupai 'Dajjal'

KH. Namru Asdar mengatakan, desain yang meyerupai simbol mata dajjal itu, diyakini bukanlah hal yang disengaja oleh desainer

Ini Pandangan Ketua MUI Mamuju Soal Anjungan Pantai Manakarra Menyerupai 'Dajjal'
nurhadi/tribunsulbar.com
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Mamuju, KH. Namru Asdar 

Laporan Wartawan TribunSulbar.com, Nurhadi

TRIBUNSULBAR.COM, MAMUJU - Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Mamuju, KH. Namru Asdar, angkat bicara terkait salah satu sisi Anjungan Pantai Manakarra, yang menuai polemik karena dianggap menyerupai simbol mata satu atau mata dajjal.

KH. Namru Asdar mengatakan, desain yang meyerupai simbol mata dajjal itu, diyakini bukanlah hal yang disengaja oleh desainer dan Pemerintah Kabupaten Mamuju sebelumnya.

"Secara pribadi, saya melihat bukan hal yang disengaja oleh Pemda sebelumnya, baik dari desainer maupun pemerintah. Ini hanya semacam desain mencontoh saja daerah dan di beberapa negara lain. Mungkin contoh itu oleh desainer, tanpa sengaja dan tidak ada niatan untuk simbol itu,"kata Namru Asdar kepada TribunSulbar.com,Minggu (14/10/2018).

Menurutnya, dalam pandangan Agama Islam, simbol mata satu belum bisa diyakini sebagai dajjal. Simbol mata satu, kata dia, juga telah ada sebelum Islam datang.

"Saya memandang, terlalu berlebihan kalau kita samakan dengan dajjal, karena dajjal itu matanya dua. Hanya memang satu matanya rusak. Simbol ini memang sejak dulu ada sebelum Islam datang. Mesir kuno dengan Dewa Matahari, jadi sebelum Islam datang sudah ada, sebelum dajjal diperkenalkan oleh Nabi Muhammad Sallahu ‘Alaihi Wasallam,"paparnya.

Ia juga meyakini, tidak satupun pengikut dajjal di Mamuju. Hanya saja, sebagian warga telah terprovokasi dan mengaitkan simbol itu seperti dajjal.

"Saya juga meyakini tidak ada pengikut dajjal di Mamuju. Saya hanya menduga orang hanya mengaitkan dan mebesar-besarkan saja, saya kira ini dilebih-lebihkan. Hanya orang yang membuat statemen dan mengaitkan sebagai pembeda saja antara Islam dan orang yang mengikuti aliran yang meyakini itu,"jelasnya.

Ketua MUI mengaku, tidak pernah dimintai pertimbangan MUI terkait kontroversi salah satu sisi Anjungan Pantai Manakarra, yang terlanjut dirobohkan karena dianggap menyerupai mata satu oleh sebagian masyarakat, utamanya di media sosial.

"Sejauh ini Pemda tidak pernah meminta pertimbangan kepada MUI Mamuju terkait hal itu,"kata dia.

Penulis: Nurhadi
Editor: Imam Wahyudi
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved