Breaking News:

Status FB Pendiri ATA Community Ini Disebar Netizen Hingga 43 Ribu Kali

Bahkan, status di FB nya tersebut turut dishare oleh akun Instagram ustad Abdul Somad (UAS)

Penulis: Ridwan Putra | Editor: Ridwan Putra
facebook

MAKASSAR, TRIBUN-TIMUR.COM, - Komentar dalam status facebook (FB) pendiri ATA Community, A Taufik Aris,  belum lama ini direspon netizen hingga puluhan ribu.

Banyaknya respon netizen hingga puluhan ribu itu ternyata gegara status ATA, singkatan nama A Taufik Aris, di FB yang menulis statement soal azan di dinding akun FB-nya, Ata, pada 26 Agustus 2018.

Alumni SMA 3 Kota Palopo ini memasang status berbunyi “Adzan itu harus keras, namanya juga panggilan. Kalau pelan namanya bisikan. Kalau ada yang mengatakan mengganggu, suara mobil juga mengganggu, gonggongan anjing di komp perumahan juga menggangu. Itulah TOLERANSI,Memaknai toleransi tidak cukup dengan logika saja, tapi juga memakai "RASA". sampai disini anda paham!! #Ata”  

Komentar balasan dari status FB nya tersebut, tercatat hingga Senin malam (3/9/2018), memang hanya dikomentari 26 netizen. Tetapi jumlah total yang merespon hingga 4,4 ribu netizen meliputi 3,8 ribu yang me-like, dan sebanyak 43 ribu kali dibagikan netizen FB.

ata fb
ata fb (facebook)

Bahkan, status di FB nya tersebut turut dishare oleh akun Instagram ustad Abdul Somad (UAS).

Status soal azan itu diposting alumni mahasiswa teknik Unhas Makassar ini sekaitan wacana soal suara azan di kalangan masyarakat menyusul beredarnya ketentuan penggunaan pengeras suara di tempat ibadah melalui Instruksi Dirjen Bimbingan Islam Nomor Kep/D/101/1978 tentang Tuntunan Penggunaan Pengeras Suara di Masjid, Langgar, dan Mushola.

ata instag
ata instag (instagram)

Selain itu, melalui akun medsos kemenang diposting gambar berisi lima ketentuan penggunaan pengeras suara untuk azan di tempat ibadah. Aturan penggunaan pengeras suara untuk azan atau adzan itu berlaku untuk masjid, musala, dan langgar.

aturan azan
aturan azan (int)

ATA yang dihubungi melalui WA- nya mengaku pada dasarnya mendukung kebijakan pemerintah melalui kemenag tersebut. Ia hanya tak ingin suara azan nantinya “terkucilkan” di negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

“Kalau saya, jangan sampai pelan karena nanti dikira bisikan. Toleransi tidak cukup dengan logika saja, tapi juga memakai rasa,” kata pendiri dan pengawas Yayasan Qolbina, lembaga penyaluran bantuan sosial dan kaum dhuafa dari PT Rhizoma, ini.(*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved