Film 'Senior Vs Junior', Cara FTI UMI Perbaiki Citra Mahasiswa Makassar di Mata Masyarakat Indonesia
Jika ya, tentu anda mengenal Ospek atau singkatan dari Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus, sebuah tradisi harus dilalui mahasiswa baru.
TRIBUN-TIMUR.COM - Anda pernah kuliah minimal jenjang S-1?
Jika ya, tentu anda mengenal Ospek atau singkatan dari Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus, sebuah tradisi harus dilalui mahasiswa baru.
Di Indonesia, Ospek pada praktiknya adalah praktik perpeloncoan yang disertai kekerasan fisik maupun psikis.
Lazimnya, yang melakukan Ospek adalah mahasiswa senior, satu angkatan atau lebih di atas angkatan mahasiswa baru tersebut.
Selama Ospek, mahasiswa baru harus tunduk pada segala bentuk perintah senior.
Jika tidak, mahasiswa baru atau mahasiswa junior harus menerima segala risiko, termasuk hukuman dalam bentuk kekerasan fisik.
Dalam menjalan Ospek, senior juga memiliki "hak diskresi" dari aturan yang tertuang dalam 2 pasal.
Kedua pasal tersebut, yakni:
Pasal 1, Senior tidak pernah salah.
Pasal 2, Jika senior salah, maka kembali ke pasal 1.
Walau kadang penuh dengan bumbu kekerasan, praktik Ospek selalu menjadi kenangan yang sulit terlupakan hingga kadang berbuah balas dendam.
Nah, mengingatkan kembali soal kenangan masa Ospek, Fakultas Teknologi Industri pada Universitas Muslim Indonesia (FTI UMI) bekerja sama dengan rumah produksi (production house) AIM Production membuat sebuah film pendek berjudul 'Senior Vs Junior'.
Film pendek yang dibumbui cerita jenaka ini dibintangi Adhy "Bassitoayya", Sukry "Bassitoayya", Tumming, Abu, dan Nayla Irwan.
Keempatnya adalah selebgram dan duo komedian yang sedang populer di kalangan netizen di Makassar, Sulawesi Selatan karena film 'Jalangkote Rasa Keju' maupun video parodi.
'Senior Vs Junior' mengangkat cerita soal duo senior, yakni Adhy dan Sukry yang pernah mengospek duo junior, Tumming dan Abu di kampus FTI UMI.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/senior-vs-junior_20180524_014441.jpg)