Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Refleksi Ramadan

REFLEKSI RAMADAN (2): Mubalig Menabur Nasihat, Jamaah Sibuk Ngerumpi

Padahal, ceramah sejatinya adalah tausiah; proses saling menasihati, membimbing, mengingatkan, mengoreksi, memberi, mencintai, dan menyayangi.

Tayang:
Editor: AS Kambie
dok.tribun
Wahyuddin Halim 

Oleh Wahyuddin Halim
Antropolog Agama

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Ramdan, menurut sejumlah hadis, punya sekurangnya sepuluh nama: bulan ibadah, bulan Al-Qur’an, bulan penuh rahmat, bulan penuh keberkahan dan bulan ampunan. Juga bulan kesabaran, bulan pendidikan, bulan jihad dan kemenangan, bulan kemurahan, dan bulan pelipatgandaan amal saleh.

Yang lebih populer dalam masyarakat kita: bulan suci dan bulan puasa. Di sini Ramadan juga identik dengan bulan ceramah.

Entah sejak kapan, ceramah menjadi menu pelengkap berbagai ritual Ramadan di musala, masjid, tempat buka puasa bersama dan tarawih keliling, pengajian, majelis taklim, radio, televisi dan internet. Selama sebulan, di semua tempat itu, ceramah keagamaan mengalami intensitas dan frekuensi tinggi.

Ceramah tarawih mungkin tradisi unik Indonesia. Saat menjalani puasa selama delapan tahun di tiga negara berbeda, saya tak pernah menjumpai ada ceramah antara salat isya dan tarawih di tempat-tempat salat tarawih.

Tampaknya, ceramah tarawih adalah tradisi yang diperkenalkan para pendakwah awal Islam sebagai momen terbaik meningkatkan pengetahuan agama, juga iman dan takwa kaum Muslim.

Setiap Ramadan tiba, permintaan mubalig meningkat signifikan. Mungkin, lebih banyak permintaan daripada stok yang tersedia.

Banyak kasus, para mubalig ‘pavorit’ harus berceramah di dua-tiga tempat berbeda dalam semalam. Munculnya mubalig dadakan atau musiman selama Ramadan sudah lama jadi fenomena di banyak tempat.

Entah mereka sarjana agama profesional atau sarjana disiplin ilmu umum. Yang terakhir ini biasanya hanya sempat belajar agama lewat pesantren kilat atau lembaga dakwah kampus.

Sayangnya, ceramah Ramadan, khususnya ceramah tarawih, tampaknya semakin mengalami inflasi. Juga irelevansi dan inkompatibilitas dengan masalah aktual kaum Muslim.

Pengaruh intensitas ceramah Ramadan terhadap peningkatan pengetahuan, kesadaran dan pengamalan agama mereka dari tahun ke tahun semakin tak terasa. Ya, masih perlu penelitian khusus guna membuktikan ke(tidak)terkaitan keduanya.

Faktanya, berbagai bentuk ceramah menggema lewat beragam media, menyesaki ruang-ruang publik dan privat kaum Muslim. Tapi tindak asusila dan amoral juga makin semarak. Korupsi menggurita, kriminalitas merajalela dan aksi teror membahana.

Boleh jadi, ini karena ceramah, khususnya saat tarawih dan subuh, memang semakin mengalami disorientasi. Ia menjadi sekadar rutinitas formal-seremonial Ramadan. Atau semata pengisi waktu bagi jamaah yang butuh rehat sejenak menunggu salat tarawih.

Di mimbar, sang mubalig sibuk berceramah. Tapi jamaah malah lebih asyik ngerumpi, bermain gawai, atau bahkan tertidur.

Ceramah keagamaan tampaknya semakin menyempit maknanya. Ia kini lebih identik dengan aksi retorik menghibur khalayak. Sesekali juga membuat mereka menangis, walau sekedar artifisial.

Padahal, ceramah sejatinya adalah tausiah; proses dan aksi timbal-balik (saling) menasihati, membimbing, mengingatkan, mengoreksi, memberi, mencintai, dan menyayangi.

Hanya dalam makna dan misi seperti itu, ceramah Ramadan diharap mampu mentransformasi umat secara intelektual, moral dan spiritual.(*)

SELANJUTNYA...
Apakah kerasnya volume corong pelantang (loud speaker) masjid yang mengelegarkan rekaman tilawah Al-Quran, salawat tahrim, dan Azan-iqamah menyebabkan lebih banyak orang yang datang bersalat jamaah di masjid tersebut?
TEMUKAN JAWABANNYA DI REFLEKSI RAMADAN WAHYUDDIN HALIM DALAM TRIBUN TIMUR CETAK EDISI SABTU, 19 MEI 2018

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved