Film Biografi Profesor UIN Alauddin Makassar Rasa Diplomasi
Melawan Takdir adalah satu dari 13 film yang tayang di FSAI 2018; 8 film Australia dan 4 film Indonesia.
Penulis: Thamzil Thahir | Editor: Anita Kusuma Wardana
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR-BUKAN sekadar tontonan menghibur, film ternyata alat diplomasi paling ampuh di dunia.
“Film lebih ampuh untuk menjalin hubungan kultural antarnegara dibanding membangun hubungan dagang, militer, sosial, atau sekedar memberi bantuan proyek. Inilah soft power diplomasi sesungguhnya,” kata Direktur lembaga Intelejen Nasional Amerika Dr. Joseph Nye, Jr. sekaligus Asisten Sekretaris bidang Pertahanan Presiden Amerika Bill Clinton (1993 - 2001) dalam kertas kerjanya, “Soft Power; Successful Examples of the use of Film as a Tool of Cultural Diplomacy,” tahun 1990 silam.
Sukses tahunan Cannes Film Festival di Prancis, sejak 1946, atau festival film Berlin sejak 1951, adalah contoh sukses diplomasi budaya melalui layar lebar.
Semangat dan cerita sukses inilah, yang dua tahun terakhir diadaptasi Kedutaan Besar Jepang di Indonesia dan Kedutaan Besar Australia.
Dua negara ini, memang memiliki kantor konsulat jenderal di Makassar. Jepang menggelar Japan Film Festival (JFF) Indonesia, akhir tahun lalu, 24 November - 26 November 2017.
Seperti 2017 lalu, otoritas diplomasi negara ini benua ini menggelar Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) di empat kota diplomasi Australia di Indonesia; Jakarta (25-28 Januari), Surabaya (26-28 Januari 2018), Denpasar (26-28 Januari), dan dua hari di Makassar (27-29 Januari 2018).
Venue FSAI juga selalu di XXI Trans Studio Mall, kawasan Tanjung Bunga, Makassar. Spektrum festival sinema Australia lebih luas.
“Inilah kali kedua, kami bikin acara ini di Indonesia, ini adalah cara terbaik untuk mengakrabkan Australia dan Indonesia,” ujar Konsulat Jenderal Australia di Makassar Richard Mathews saat memberi sambutan di Studio XX1, sebelum pemutaran film Melawan Takdir, karya sutradara Quraish Mathar dari 7 Langit Production.
Melawan Takdir diadaptasi dari biografi Guru Besar Tarbiyah UIN Alauddin Makassar, Profesor Dr Hamdan Juhannis PhD (2013).
Melawan Takdir adalah satu dari 13 film yang tayang di FSAI 2018; 8 film Australia dan 4 film Indonesia.
Tujuh film Australia adalah Alis Wedding, Dance Academy, Killing Ground, Otherlife, Red Dog: True Blue, Rip Tide, dan Soul Bunker.
Sedangkan film karya sineas Indonesia, adalah Marlina The Murderer in Four Acts,, Melbourne Rewind, dan Nunggu Teka. Seperti tahun sebelumnya, FSAI kali kedua ini juga menggelar kompetisi enam film dokumenter, short film festival.
Dalam siaran pers Kedubes Australia yang diterima Tribun awal Januari lalu, Kuasa Usaha Australia di Kedubes Australia di Jakarta, Allaster Cox, menyebut, pemutaran film-film ini memang didedikasikan untuk mempromosikan budaya, nilai, dan moral dari dua negeri bertetangga ini.
"Mudah-mudahan film-film yang ditayangkan menampilkan Australia modern yang beraneka ragam. Misalnya seperti film Ali's Wedding yang menampilkan budaya Muslim," ujar Cox.
Seperti tren budaya di kota-kota besar dunia, termasuk di Jakarta, Surabaya, Denpasar dan Makassar, "Di kota-kota besar seperti Sydney dan Melburne, budayanya sudah campur dari berbagai tempat."
Film Melawan Takdir yang menceritakan biografi Wakil Rektor IV UIN Alauddin Prof Dr Hamdan Juhannis Ph.D. Guru besar di Fakultas Tarbiyah UIN Ini, berasal dari keluarga miskin di Mallari, kampung tua di tenggara Watampone, yang juga kampung mendiang ayah Wakil Presiden M Jusuf Kalla.
Tak seperti film-film karya profesional lain, film ini memang masih banyak “ bocor” dalam setting konteks dan waktu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/fsai_20180128_125349.jpg)