Energi Kita Energi Pertamina
Arkil Akis - Dari Denting Tabung-tabung Elpiji
Sistemnya adalah perusahaan tempat saya bekerja memiliki beberapa tangki penyimpanan gas yang disalurkan dari kapal yang bergiliran
TRIBUN-TIMUR.COM - Ini adalah artikel nominasi lomba penulisan yang diselenggarakan PT Pertamina (Persero) MOR VII Sulawesi kerjasama dengan Tribun Timur.
Penulis: Arkil Akis
Bunyi dan ingatan kadangkala memiliki hubungan yang erat. Denting sendok dan gelas, letusan kembang api, atau lagu tertentu kadangkala membawa kita kepada ingatan tertentu. Salah satu dari sekian banyak bunyi yang membawa saya ke masa lalu adalah dentingan dari gesekan tabung gas elpiji. Ada dua hal yang akan saya ingat: Dapur ibu dan pekerjaan saya beberapa tahun yang lalu.
Hal pertama adalah keniscayaan bagi seorang anak yang ibunya mengabdikan diri di dapur.Sejak konversi minyak tanah ke gas elpiji, tabung-tabung sumber perut kenyang tersebut menjadi bagian yang tak terpisahkan.Apalagi sebagai seorang anak rantau.Kerinduan menikmati masakan ibu sungguh menyiksa.Sedangkan hal kedua, mengingatkan kepada profesi saya saat bekerja di salah satu perusahaan swasta di Makassar.
Perusahaan tersebut bergerak di beberapa bidang seperti otomotif, semen, pembangkit listrk, dan lain-lain. Saya bekerja di bagian yang bergerak dibidang penyaluran gas elpiji bagi masyarakat Sulawesi yang bekerja sama dengan PT. Pertamina.
Sistemnya adalah perusahaan tempat saya bekerja memiliki beberapa tangki penyimpanan gas yang disalurkan dari kapal yang bergiliran singgah di anjungan. Anjungan milik perusahaan sebagai media penyaluran. Kapal-kapal tanker tersebut diatur oleh Pertamina, juga skid tank yang bergiliran datang ke terminal perusahaan untuk menyalurkan gas ke berbagai daerah di Sulawesi. Kami hanya menyediakan tempat untuk menerima dan menyalurkan gas, sedangkan Pertamina menjadwalkan kedatangan kapal tanker dan truk-truk skid penyaluran ke masyarakat.
Bekerjasama dengan Pertamina adalah salah satu pengalaman yang cukup menyenangkan.Saya mengetahui bagaimana proses Pertamina melayani masyarakat. Kebetulan sekali saya adalah perwakilan dari kantor yang selalu berkunjung ke kantor Pertamina setiap bulannya. Saya khusus menangani penagihan terhadap jasa yang telah dilakukan oleh perusahaan kami untuk Pertamina.Tentu saja, selain menangani penagihan, saya juga bertanggungjawab mengawasi pendistribusian gas di perusahaan.
Berkelilingkantor Pertamina yang khusus menangani distribusi gas menjadi pengalaman tersendiri.Saya bisa menyaksikan truk-truk skid tank masuk bergiliran untuk mengambil gas dan kemudian berlalu untuk disalurkan ke daerah-daerah. Bedanya dengan kantor saya, kami tidak melayani distribusi gas tabung 3kg ataupun 12kg, sedangkan dikantor Pertamina juga melayani distribusi eceran ukuran kecil. Sama seperti truk skid, mobil-mobil yang memuat tabung gas kecil juga masuk bergiliran.
Para karyawan Pertamina bercerita bahwa mereka selalu harus sedia gas selama 24 jam agar tidak ada keluhan kehabisan gas baik di kota maupun di desa. Pertamina selalu berkomitmen untuk melayani masyarakat kapanpun jadi pegawai mereka pun bekerja dengan system shift, sama dengan kantor saya. Hal itu dikarenakan truk skid tank bisa datang jam berapapun karena perjalanan mereka ada yang memakan 12 sampai 20 jam untuk sampai di terminal gas.
Saya juga diberitahu bahwa cara Pertamina menanggulangi agar tidak terjadi antrian ataupun kelangkaan gas adalah terus mengawasi operasi pasar.Pertamina selalu berusaha agar stok gas tidak pernah habis di tanki-tanki gas milik mereka jadi sudah ada jadwal tertentu dan rutin kedatangan kapal-kapal tanker pembawa gas elpiji tersebut.
Di tahun-tahun tersebut, sembari mengurus kesibukan yang menguras tenaga dan pikiran, seringkali saya terbawa akan bayangan akan seperti apa proses ini di tahun-tahun mendatang. Terutama, jika melihat dua hal utama yang saat ini gencar dibahas: Energi terbarukan dan ketahanan energi kita.
Di banyak Negara maju, penggunaan energi terbarukan perlahan mengimbangi atau bahkan telah siap mengganti penggunaan energi konvensional.Sebut saja misalnya penggunaan solar cell, biofuel, atau biomassa.Sesuatu yang sampai hari ini penggunaannya belum semasif sumber energi konvensional.Padahal, Indonesia kaya akan sumber-sumber energi terbarukan tersebut.
Penggunaan energi terbarukan sangat mendesak. Apalagi, jika melihat bahwa cadangan minyak dan gas kita hanya mencukupi hingga tahun 2023. Saat ini, cadangan minyak dan gas kita sebesar 3,7 juta barel atau hanya 0,2 persen dari jumlah cadangan dunia sebesar 1.700 miliar barrel. Sementara, prediksi penggunaan minyak dan gas sebagai penopang energi utama justru hingga tahun 2050.
Persoalan cadangan migas tersebut yang menjadi persoalan pokok untuk berbicara lebih jauh tentang ketahanan energi.Pemenuhannya, tentu saja harus melibatkan peran penting pemerintah. Sebab, ketahanan energi dalam penyediaan cadangan migas bukan hanya sumber-sumber yang ada di dalam negeri.Ketahanan energi bisa dibentuk dengan ketersediaan sumber di luar negeri (avalaibility) dan akses terhadap sumber luar (Accesibility).Di dua hal tersebutlah, peran pemerintah sangat krusial untuk mengekspansi sumber yang ada di luar. Entah itu lewat akuisisi oleh Pertamina maupun jalur kerja sama antar Negara.
Energi terbarukan dan ketahanan energi adalah keniscayaan di masa depan. Saat sumber-sumber energi konvensional semakin berkurang dan ketergantungan pemenuhan energi terhadap minyak dan gas menjadi tantangan tersendiri sejak saat ini.Tantang bagi pemerintah dan khususnya Pertamina, sebagai pihak yang telah mengelola pemenuhan energi di Indonesia selama 60 tahun.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/pertamina-tangki_20171216_172638.jpg)