Inilah Penyebab Pak Bondan Winarno 'Maknyus' Meninggal Dunia Tadi Pagi
Pemandu acara wisata kuliner yang ditayangkan melalui stasiun televisi, Bondan Winarno meninggal dunia.
Ketika Bondan masih anggota Pramuka dulu, lelaki berkulit cokelat ini aktif dalam aeromodelling.
Ketika berkeluarga, ia ikut terjun payung dan menjadi anggota Jakarta Flying Club.
Sebenarnya, Bondan juga bercita-cita menjadi penerbang, selain guru dan wartawan.
Ibunya ingin Bondan menjadi dokter, atau insinyur.
Di Fakultas Teknik, Jurusan Arsitektur, Universitas Diponegoro, Semarang, namun belum sempat selesai, Bondan sudah menjadi fotografer Puspen Hankam di Jakarta hingga tahun 1970.
Setelah itu, ia berpindah-pindah kerja, tetapi tetap tidak lepas dari lingkup komunikasi massa.
Sempat bertugas sebagai wartawan ke berbagai negeri, antara lain ke Kenya, Afrika.
Sebagian pengalamannya dari negeri itu ia tuangkan menjadi cerpen berjudul Gazelle, yang kemudian memenangkan hadiah pertama lomba penulisan cerpen majalah Femina pada tahun 1984.
Menulis sudah hampir merupakan kebiasaan bagi Bondan.
Ia pun bisa menulis di mana saja, di pesawat udara, di mobil, atau bahkan di toilet.
Hasil tulisannya dimuat berbagai penerbitan, misalnya Kompas, Sinar Harapan, dan Tempo.
Pada majalah terakhir ini ia secara tetap Bondan mengisi Rubrik Kiat, yaitu kolom pendek soal-soal manajemen, dunia yang juga ia tekuni selama ini.
Pekerjaan
Sejak 1960 (umur 9–10 tahun), Bondan menjadi penulis lepas.
Ia menulis di berbagai penerbitan seperti Kompas, Sinar Harapan, Suara Pembaruan, Tempo, Mutiara, Asian Wall Street Journal, dan lain-lain.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/bondan-winarno-1_20171129_125023.jpg)