SYL Minta Fasilitas PPN Untia Siap dalam Enam Bulan
Peletakan batu pertama ini sebagai penanda pembangunan Cold Storage atau tempat pembekuan ikan
Penulis: Alfian | Editor: Anita Kusuma Wardana
TRIBUN-TIMUR.COM-Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo melakukan peletakan batu pertama pembangunan Cold Storage Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Untia, Makassar, Kamis (12/10/2017).
Peletakan batu pertama ini sebagai penanda pembangunan Cold Storage atau tempat pembekuan ikan di Pelabuhan perikanan terbesar di Indonesia Timur itu akan segera digenjot.
SYL pada kesempatan itu mengikuti prosesi peletakan batu pertama disela-sela rangkaian kegiatan peresmian Gerakan 1000 Kebaikan Dinas Kelautan dan Perikanan Sulsel yang juga dipusatkan di wilayah tersebut.
Turut hadir pula sejumlah pihak diantaranya perwakilan Direktorat Jendral Perhubungan, Komandan Lantamal IV, dan Polair Polda Sulsel.
Sebelumnya pengelola pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) bekerjasama dengan investor asal Rusia untuk membangun cold storage atau tempat pembekuan ikan. Cold storage dianggap sangat dibutuhkan oleh para nelayan mengingat fungsinya agar hasil tangkapan nelayan dapat tetap awet.
Dimana saat ini, pihak pengelola masih menggunakan kapal Mina Jaya Niaga untuk menampung hasil tangkapan ikan. Adapun Investor asal Rusia yang dimaksud yakni Perusahaan Blackspace.
SYL pada kesempatan itu menegaskan pihak pengelola PPN Untia harus segera merampungkan segala jenis fasilitas yang bakal disediakan di lokasi tersebut. Termasuk Cold Storage, Gubernur Sulsel dua periode itu berharap segala sesuatunya bakal hadir enam bulan kedepan.
"Saya mau ini enam hingga tujuh bulan sudah siap disini termasuk Cold Storage yang ada dan disinilah awalnya, kedepan yang akan kita pikirkan airnya, minyak, kita bakal berbicara dengan Pertamina termasuk PDAM sehingga semua fasilitas yang ada disini enam bulan harus sudah selesai," tuturnya.
Selain Cold Storage dan ketersediaan minyak dan air, SYL juga menginginkan infrastuktur pendukung lainnya seperti jalan menuju Pelabuhan juga segera dibenahi. Hal ini disebabkan jalur yang dilalui saat ini masih terbilang belum memadai lantaran masih adanya sebagian jalan yang belum diaspal.
"Pelabuhan Untia ini sempat dibahas di rapat terbatas (Istana) dan bagi kami di Pemerintah Provinsi pelabuhan Untia ini tak ada masalah dan Pak Sekda dan bersama Pak Wali turun tangan lagi bicara tentang jalan itu bagaimana agar bisa dipercepat biarlah agak mendahului anggaran," tegasnya.
Terkait dengan minimnya minat pengusaha ikan dan nelayan bersandar di PPN Untia, SYL menegaskan bahwa hal tersebut bukanlah problem. Menurutnya dengan ketersediaan fasilitas nantinya secara berangsur para pengusaha bakal mengalihkan dan mulai melirik keberadaan PPN Untia.
"Problemnya sekarang soal fasilitas, jika semua telah tersedia bakal berangsur datang dan ramai, yang jelas dan harus dipertegas pelabuhan Untia ini bukan cuma milik warga Bugis-Makassar tetapu milik Indonesia, siapapun baik dari Papua dan daerah lainnya bisa memanfaatkannya nanti," tutupnya.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/ppn-untia_20171012_165859.jpg)