Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Catatan Sepakbola dari Willy Kumurur

Denting Piano di Camp Nou

APA YANG KITA KATAKAN jika seorang sahabat karib pergi meninggalkan kita untuk selamanya? Jika ia pergi jauh, akankah kita terluka?

Editor: Suryana Anas

Catatan Sepakbola dari Willy Kumurur

APA YANG KITA KATAKAN jika seorang sahabat karib pergi meninggalkan kita untuk selamanya? Jika ia pergi jauh, akankah kita terluka? Tatkala Neymar Jr meninggalkan Barcelona untuk bergabung dengan klub barunya: Paris Saint Germain (PSG), Lionel Messi menulis di Instagram-nya: "Betapa bahagianya bersamamu di sepanjang tahun-tahun kebersamaan kita, Neymar.

Harapanku selalu adalah semoga kau sukses di episode baru kehidupanmu." Neymar meresponsnya dengan sebaris kalimat manis, “Thank you, brother. Aku akan merindukanmu.”

Baca: Hasil dan Klasemen Liga Champions - Bek Ini Top Skor Tempel Cavani, Messi, Ronaldo

Ketika dua sahabat terpisah, yang tinggal adalah perasaan terluka. Novelis Nicholas Spark menulis dalam bukunya The Notebook, “Alasan mengapa amat sakit kurasakan adalah karena jiwa-jiwa kita terhubung.” Trio MSN (Messi-Suarez-Neymar) begitu hebat.

Baca: Mengejutkan, Neymar Sarankan Coutinho Tak ke Barcelona

Daya rekat MSN begitu kuat, sehingga dalam satu musim trio ini menghasilkan di atas seratus gol. Rekatnya mereka karena keterikatan emosional, jiwa mereka terkoneksi satu dengan yang lain. Tapi kini, trio ini selesai.

Zaman keemasan MSN berakhir. Di lapangan hijau tak akan ada lagi MSN. Trio itu kini tercabik dan tinggal catatan sejarah. Yang ada sekarang adalah trio LSD (Lionel-Suarez-Dembelle) dan trio MaCaN (Mbappe-Cavani-Neymar). Sejarah pula-lah yang akan menulis apakah mereka akan setajam trio MSN?

Baca: Lima Fakta tentang Striker Teranyar PSM Makassar, Nomor 3 Mirip Neymar Jr

Sepeninggal Neymar, Barcelona porak-poranda. The Catalans menjadi messy (berantakan). Di Piala Super Spanyol mereka dibuat tak berdaya oleh seteru abadinya, Real Madrid, dalam laga kandang dan tandang.

Filsuf dan penyair Italia, Pier Paolo Pasolini, melukiskan bahwa lapangan hijau adalah panggung kesusasteraan, “Tergantung siapa yang memakai sepatu bola, di kaki pemain Amerika Latin, bola adalah puisi, dan puisi itu akan menjelma menjadi prosa di kaki pemain Eropa.”

Ketika sebait puisi itu hijrah ke PSG, Messi melupakan sejenak bai-bait puisi dalam dirinya, dan “meng-istirahatkan” sejenak kaki-kakinya, karena yang ia mainkan adalah jari-jemarinya yang dengan lincah menari-nari di atas tuts piano. Ia mainkan lagu tema Liga Champions, the master, the best, the champions. Nada yang indah dan agung.

 Dan kemudian, puisi dan irama piano itulah yang kemudian menjelma di lapangan bola. Lionel Messi dan kawan-kawan menggilas Juventus di Camp Nou: 3-0. Dendam El Blaugrana lunas ketika membenamkan Si Nyonya Tua dengan indah. Tapi, perjalanan masih panjang. Irama apalagi yang akan kau kumandangkan, Messi?***

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved