Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Komunitas Pecinta Kopi Maempo Gowa Bahas Persepsi Takziah yang Bergeser

Hal ini kemudian menjadi pembahasan ringan komunitas penikmatan kopi di Warkop Kampung Kopi Maempo, Jl. Sirajuddin Rani, Kamis (27/4).

Penulis: Waode Nurmin | Editor: Ina Maharani
TRIBUN TIMUR/WA ODE NURMIN
komunitas penikmatan kopi Maempo membahas persepsi takziah di Warkop Kampung Kopi Maempo, Jl. Sirajuddin Rani, Kamis (27/4). 

TRIBUN-TIMUR.COM, SUNGGUMINASA- Takziah biasa kita kenal dengan maksud mendoakan jenazah dengan cara menghibur keluarga yang ditinggalkan.

Namun dengan berlalunya waktu, definisi Takziah kini rupanya mulai mengalami pergeseran nilai-nilai kultur.

Hal ini kemudian menjadi pembahasan ringan komunitas penikmatan kopi di Warkop Kampung Kopi Maempo, Jl Sirajuddin Rani, Sungguminasa, Gowa, Kamis (27/4).

Anas M Nassa,  salah seorang anggota, mengungkapkan, jika di era tahun 80-an, takziah itu hanya berupa pengajian yang dilakukan oleh orang-orang yang datang.

"Dan memang itu mulai bergeser nilai-nilai kulturnya. Dulu ketika ada orang meninggal hanya ada pengajian, tanpa ceramah. Tapi sekarang ini kalau tidak ada penceramah katanya bukan Takziah. Padahal Takziah itu artinya menghibur pada saat berduka. Istilahnya berbagi duka lah," katanya.

Nassa juga menjelaskan jika mulainya pergeseran itu disebabkan dulunya masyarakat yang hadir di rumah duka biasa mengisi waktu dengan bermain kartu (domino).

Inilah yang kemudian dinilai justru mengarah ke negatif sehingga ada gerakan islam melihat persoalan tersebut lalu merubah itu untuk menjadi kegiatan lebih bermanfaat.

"Jadinya sekarang sudah menjadi kultur karena jika diisi dengan ceramah begitu banyak positifnya. Tapi dulu itu sempat ada penolakan dianggap diluar dari kelaziman. Tidak begitu saja konsep itu diterima karena memang tidak biasa dilakukan apalagi saat moment kedukaan,".

Belakangan Takziah dengan mengundang penceramah dianggap sebagai majelis syiar, karena isi ceramah selalu seputar keislaman dan contoh-contoh karakter manusia.

Tak berhenti sampai disitu, ketidaklaziman hadirnya penceramah pun juga kembali bergeser ke arah aspek finansial.

Dimana penceramah - penceramah di acara takziah tidak terlepas dari honor yang mereka terima.

Bram Maempo mengatakan sekarang ini besaran honor penceramah itu dilihat dari kelas dan tergantung tittle.

"Tergantung siapa penceramah dan siapa yang meninggal. Kalau berkelas pasti lebih banyak," katanya.

Daeng Lira pun mengungkapkan jika takziah itu dilakukan ketika jenazah masih ada. Bukan melainkan setelah dikubur dan diadakan takziah.

"Dulu kan memang begitu. Kita takziah ketika jenazah masih ada. Dan sekeliling diisi pengajian, sambil mendoakan. Tapi memang ada juga disediakan semacam makanan kue-kue," ujarnya.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved