Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

VIDEO: Danlantamal VI Bantah Ada Anggotanya Pukul Warga Sipil

Sementara, korban lainnya HM Said, Yusup mengatakan kejadiannya setelah penertiban telah dilakukan.

Penulis: Fahrizal Syam | Editor: Ina Maharani

 
Laporan Wartawan Tribun Timur Fahrizal Syam

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Danlantamal VI Makassar, Laksma TNI Yusup angkat bicara terkait dugaan pemukulan yang dilakukan anggota Polisi Militer Angkatan Laut (Pomal) kepada warga sipil, di Jl Satando Raya, Makassar, Selasa (18/4/3017).

Yusup membantah dugaan pemukulan tersebut, yang mengakibatkan dua orang harus dirawat di rumah sakit.

"Kami ingin meluruskan, bahwa anggota tak melakukan pemukulan. Kami hanya mencoba menertibkan parkir liar di lokasi tersebut," ujar Yusup saat menggelar konfrensi pers di kantornya.

"Kami juga mau ajak yang bersangkutan (Salim Mamma) ke markas untuk bicara baik-baik, tapi dia malah menuding anggota mau menangkap," kata dia.

Yusup menuturkan, pihak Pomal hanya ingin membantu pihak kepolisian dalam menertibkan parkir liar di tempat tersebut, apalagi jalan itu merupakan akses masuk ke tol dan markas Angkatan Laut.

"Di situ ada kedai kopi yang katanya kopinya enak, kami tak melarang minum kopi, tapi jangan parkir di situ. Kenapa kemudian TNI AL ambil inisiatif melakukan penertiban, karena itu salah satu akses masuk ke markas AL," ujarnya.

Baca: 60 Murid Kelas V SD Sudirman 1 Naik Kapal Angkatan Laut

Baca: Diduga Gara-Gara Parkir, Wakil Ketua PWI Sulsel Dikeroyok Oknum Anggota TNI AL

Yusup melanjutkan, saat penertiban terdapat setidaknya 20 mobil yang parkir di tempat larangan parkir itu, bahkan di tempat tersebut juga ada polisi.

"Ada sekitar 20 kendaraan menutup akses masuk tol. Di situ juga ada anggota polisi, saya lalu telepon Kapolda, beliau setuju tak boleh lagi ada yang parkir di situ, makanya kami tertibkan," imbuhnya.

Terkait dugaan pemukulan, Yusup menuturkan korban telah diperingatkan terlebih dahulu dengan langkah persuasif namun tetap menolak ditertibkan, bahkan ia mengaku sebagai keluarga Jenderal.

"Salah satu saudara kita, mungkin karena hawanya panas, kami sudah ingatkan, tapi dia tetap tidak mau karena merasa anggota PWI dan juga mengaku keluarga Jenderal, sehingga situasi sedikit memanas," ujarnya.

"Danlantamal juga Jenderal, tapi tak boleh semena-mena begitu dong. Semua harus dijalankan berdasarakan aturan yang berlaku," tambahnya.

Sementara, korban lainnya HM Said, Yusup mengatakan kejadiannya setelah penertiban telah dilakukan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved