VIDEO: Sarang Walet Salmawati di Enrekang
Bangunan tiga lantai yang pada awalnya akan dijadikan hotel, akhirnya direnovasi menjadi sarang burung walet.
Tayang:
Penulis: Muh. Asiz Albar | Editor: Ilham Mangenre
Laporan Wartawan Tribunenrekang.com, Muh Azis Albar
TRIBUNENREKANG.COM, ENREKANG- Salmawati (38) dan keluarganya membudidayakan burung walet di Kabupaten Enrekang sejak 2011.
TRIBUNENREKANG.COM, ENREKANG- Salmawati (38) dan keluarganya membudidayakan burung walet di Kabupaten Enrekang sejak 2011.
Ide usaha mereka berawal dari saran dari kerabat ayahnya.
Bangunan tiga lantai yang pada awalnya akan dijadikan hotel, akhirnya direnovasi menjadi sarang burung walet.
"Ada rekannya bapak dari Pinrang namanya Haji Kadir yang ajarkan bagaimana budidaya walet," kata Salmawati kepada TribunEnrekang.com, Jumat (14/4/2017).
Bangunan tiga lantai yang pada awalnya akan dijadikan hotel, akhirnya direnovasi menjadi sarang burung walet.
"Ada rekannya bapak dari Pinrang namanya Haji Kadir yang ajarkan bagaimana budidaya walet," kata Salmawati kepada TribunEnrekang.com, Jumat (14/4/2017).
Salma menyebutkan, biaya untuk membangun sarang walet ratusan juta.
"Itu untuk sarana dan prasarananya seperti ratusan air conditioner (AC) dan kayu khusus," ujar putri Legislator PAN Enrekang Saiful Wattang, tersebut.
"Itu untuk sarana dan prasarananya seperti ratusan air conditioner (AC) dan kayu khusus," ujar putri Legislator PAN Enrekang Saiful Wattang, tersebut.
Yah, usaha walet Salmawati sudah berusia enam tahun.
Omsetnya Rp 100 juta hingga 200 juta setiap tahunnya.
"Saya pernah dapat Rp 200 juta dengan menjual 10 kilogram sarang walet, waktu itu harganya masih Rp 20 juta per Kg,
tapi sekarang sudah susah dapatkan harga segitu karena hargany sekarang fluktuatif dan disesuaikan dengan kualitas," cerita Salma.
Salma saat ini mempekerjakan empat karyawan untuk membudidayakan sarang waletnya.
"Mereka ditugaskan membersihkan dan memanen sarang, masing-masing sekali seminggu," katanya.
Omsetnya Rp 100 juta hingga 200 juta setiap tahunnya.
"Saya pernah dapat Rp 200 juta dengan menjual 10 kilogram sarang walet, waktu itu harganya masih Rp 20 juta per Kg,
tapi sekarang sudah susah dapatkan harga segitu karena hargany sekarang fluktuatif dan disesuaikan dengan kualitas," cerita Salma.
Salma saat ini mempekerjakan empat karyawan untuk membudidayakan sarang waletnya.
"Mereka ditugaskan membersihkan dan memanen sarang, masing-masing sekali seminggu," katanya.
Menurutnya, perawatan merupakan hal yang paling utama.
"Itu karena burung walet sangat peka terhadap perubahan kondisi dan bau. Contohnya, masuk sarang harus pakai baju berwarna gelap, tidak boleh pakai parfum, dan tidak sembarang senter." (*)