Cerita di Balik Monumen Masamba Affair di Luwu Utara
Serangan terhadap militer Belanda berawal saat Salawati Daud dimandatkan menggalang pemuda Sulsel untuk memberontak melawan Belanda.
Penulis: Chalik Mawardi | Editor: Mahyuddin
Laporan Wartawan TribunLutra.com, Chalik Mawardi
TRIBUNLUTRA.COM, MASAMBA - Di jantung Kota Masamba, Kabupaten Luwu Utara, Sulsel, berdiri kokoh sebuah monumen yang diberi nama Monumen Masamba Affair.
Lalu apa sejarah di balik monumen tersebut di kota yang berjarak 444 kilometer dari Kota Makassar itu?
Arlan Pasajo, tokoh masyarakat setempat menceritakan monumen dibangun untuk mengenang peristiwa penyerangan militer Belanda di Masamba, 29 Oktober 1949.
"Monumen Masamba Affair dibangun untuk mengenang sejarah perjuangan pemuda Masamba melawan NICA atau Belanda," kata Arlan, Kamis (6/4/2017).
Serangan terhadap militer Belanda berawal saat Salawati Daud dimandatkan menggalang pemuda Sulsel untuk memberontak melawan Belanda.
Baca: Salawati Daud Jadi Nama Jalan di Masamba Luwu Utara, Ini Sejarah Perjuagannya
Bersama Hasan Lakallu, wali kota perempuan pertama di Indonesia itu berangkat dari Makassar untuk mengajak pemuda Masamba melawan Belanda.
Bersama beberapa pemuda Masamba, seperti Kasim Kasmad dan Bakri Nantang, mereka menyerang tangsi Belanda dan merebut sekitar 20 pucuk senjata.
Bermodalkan senjata rampasan, penyerbuan bergeser ke penjara Belanda dan melepas sejumlah tahanan politik dari Tentara Kawanan Rakyat Luwu. Salah satunya, Andi Attas.
Setalah kejadian itu, mereka lalu bergerilya melanjutkan perjuangan dengan membagi dua pasukan.
Satu pasukan dipimpim Kasim Kasmad dan satunya dipimpin Andi Attas.
Saat bergerilya, perang dengan Belanda pecah di Rompo (Desa di Kecamatan Masamba).
Salah satu pemuda bernama Lesangi tewas dalam pertempuran itu.
Baca: Tangsi Belanda Ini Bukti Sejarah Perjuangan di Masamba Luwu Utara
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/monumen-masamba_20170406_165949.jpg)