Ini Alasan Petani Jagung di Jeneponto Lebih Pilih Tanam Jenis Hibrida Daripada Ketan
Menurut Ahmad, 70 persen petani di desanya lebih memilih menanam jagung hibrida.
Penulis: Muslimin Emba | Editor: Mahyuddin
TRIBUNJENEPONTO.COM, TAMALATEA - Mayoritas petani jagung Jeneponto saat ini memasuki musim panen.
Untuk musim panen pertama berlansung mulai pertengahan Januari hingga awal Maret.
Hampir merata di sebelas kecamatan, tak terkecuali di Kecamatan Tamalatea.
Terpantau di kampung Pammanjengan, Kelurahan Bontotangnga, Minggu (12/02/2017) malam.
Sejumlah pelataran hingga ruang tengah rumah panggung milik warga di kampung itu disesaki buah jagung.
Jagung itu berwarna kuning alias jagung hibrida.
Jenis hibrida dipilih oleh petani karena menjadi sumber penghasilan mereka.
"Kalau hibrida jelas pembelihnya, kalau jagung punut kurang pedagang tetapnya, biasanya pedagang pasar ji yang beli untuk dicampur beras," kata seorang petani di kampung itu, Yunus (39).
Sementara, Nurdin (37) mengaku hasil panen hibrida lebih banyak jika dibanding jagung ketan atau punut.
"Hasil panennya lebih banyak dibanding jagung punut, jadi kita lebih pilih hibrida, karena kita ingin lebih banyak penghasilan," kata Nurdin.
Dinas Pertanian Jeneponto mencatat, terdapat 36 ribu hektar luas lahan pertanian di Jeneponto.
"Ada 36 ribu lebih luas lahan pertanian di Jeneponto, jika dua kali panen berarti bisa mencapai 50 ribu ton lebih," kata Kadis Pertanian Jeneponto, Ahmad kepada TribunJeneponto.com, melalui sambungan telepon.
Menurut Ahmad, 70 persen petani lebih memilih menanam jagung hibrida.
Alasannya, hasil produksi dan pasarnya lebih banyak dibanding jagung putih atau ketan.
"Kan jagung hibrida itu bahan baku pakan, jadi pasarnya jelas dan produksinya lebih banyak," ujar Ahmad.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/petani-jagung-kuning-di-jeneponto-memperlihatkan-hama-yang-menempel-di-batang-pohon-jagung_20160303_174030.jpg)