CITIZEN REPORTER
Cara Beli Ikan di Paotere, Agar Dapat Harga Murah
Selain ikan, ternyata di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Paotere juga bisa dijumpai hasil laut lainnya seperti udang, cumi-cumi dan kepiting
Penulis: CitizenReporter | Editor: Ina Maharani
Laporan: Mukhlis 'Mooks' Yusuf, Warga Jakarta dari Makassar
TRIBUN-TIMUR.COM - Selain ikan, ternyata di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Paotere juga bisa dijumpai hasil laut lainnya seperti udang, cumi-cumi dan kepiting. Semua dijual dengan harga yang bervariasi.
Ada yang dijual per ekor dan ada juga yang dijual per kilogram. Kita bisa memilih sesuai dengan kebutuhan atau keuangan yang kita miliki.
Setelah hampir 15 menit berkeliling, saya memutuskan untuk bertanya pada salah seorang penjual ikan yang sedang menawarkan ikan jualanya dalam ember-ember kecil.
"Silahkan dipilih ikanya, satu ember ini jumlahnya 1 ekor, harganya Rp.150.000," ujarnya Mendengar ucapan sang penjual ikan tadi saya langsung terkejut.
Betapa tidak, harga ikan di Paotere yang saya bayang-bayangkan sebelumnya bisa jauh lebih murah dibandingkan ketika kita membeli ikan di pasar rakyat atau supermarket, justru kini yang saya jumpai harganya hampir sama.
"Kenapa ikan ini mahal harganya," spontan saya mengajukan pertanyaan kepada penjual ikan yang dari tadi menawarkan ikanya dengan harga yang diluar dugaan.
"Tentu saja ikannya mahal, karena sekarang sudah jam 7 lewat dan jika kalian tidak segera membeli ikan ini, tidak lama lagi harganya akan semakin naik. Jika kalian ingin harga ikan murah, datanglah membeli ikan disini sebelum matahari terbit, saat ikan-ikan ini baru diturunkan dari atas kapal," jelasnya.
"Harga ikan yang dijual di sini berubah tiap waktunya, semakin siang, harga ikan akan semakin mahal," ujar si penjual ikan sambil menghembuskan asap rokoknya.
Sejenak saya tertegun, dan berpikir kenapa perbedaan waktu bisa mempengaruhi harga ikan. Setelah menyusuri setapak kecil di antara penjual ikan, saya memutuskan untuk menuju salah satu kapal penangkapan ikan yang dari jauh kelihatan masih melakukan bongkar muatan.
Di sana saya melihat banyak sekali ikan yang sedang diturunkan. Saya berharap bisa menemukan jawaban dari orang-orang kapal yang merupakan pemilik dari semua ikan-ikan yang diperjual belikan di pelelangan ini.
Tanpa menunggu mereka selesai melakukan aktifitasnya, saya mengajukan pertanyaan pada salah seorang yang sedang sedang menurunkan keranjang ikan.
"Apakah memang harga ikan yang dijual oleh orang-orang yang ada disini semahal harga ikan yang saya jumpai disana?" sambil menunjuk tempat dimana saya menawar ikan pertama kalinya saat tiba di Paotere.
Sambil tersenyum lelaki paruh baya itu menjawab, "ikan-ikan di sini murah, apalagi kalau baru diturunkan dari kapal, hanya saja harga ikan akan menjadi mahal kalau hari sudah mulai terang, karena pada saat itu pembeli ikan sudah mulai ramai berdatangan. Jadi kalau ingin membeli ikan dengan harga murah maka datanglah di sini, sebelum matahari terbit."
"Datanglah di sini saat ikan-ikan ini belum dijual secara resmi kepada para pengecer yang ada disana (menunjuk ke tempat saya membeli ikan tadi)."
"Jika saja kalian datang saat ikan-ikan ini belum dibongkar seperti ini, maka tentu saja kami akan menjualnya dengan harga murah karena mereka yang datang saat kami belum membongkar ikan secara resmi seperti sekarang ini, ada harga spesial yang kami berikan."
"Ada saat dimana kami menganggap pembeli ikan sebagai pelanggan resmi dan ada saatnya kami menganggap pembeli ikan bukan sebagai pelanggan, tapi sebagai sahabat," ucapnya membuat saya mengerti.
"Mereka yang datang sebelum matahari terbit akan mendapatkan harga sahabat, harga spesial dari kami dan mereka yang datang saat matahari telah terbit atau saat-saat seperti sekarang disaat telah banyak orang yang datang membeli ikan maka mereka akan mendapatkan harga sesuai pasaran. Jadi lain kali kalau ingin mendapatkan ikan murah datanglah sebelum matahari terbit."
Sambil tersenyum, lelaki paruh baya tadi melanjutkan lagi aktifitasnya menurunkan kerangjang-kerangjang ikan dari perahunya.
Puas rasanya saya telah mendengarkan penjelasan dari sang nelayan. Ada harga yang harus dibayar mahal ketika kita abai terhadap waktu. Ada aturan main yang ada disana.
Aturan main yang membuat mereka sampai hari ini tetap bertahan dan mencintai pekerjaan mereka sebagai nelayan dan penjual ikan.
Ada pelajaran yang sangat berharga bisa saya petik dari perjalanan ini. Para nelayan dan penjual ikan yang ada di Paotere mengajarkan saya tentang rahasia mereka dalam memperlakukan orang-orang yang datang disana untuk membeli ikan.
Saat engkau ingin menjadi sahabat bagi mereka dan menginginkan ikan murah, datanglah saat fajar belum menerangi alam semesta, saat embun pagi masih menetes didedaunan, jika tidak maka status sahabat dan harga murah tak akan pernah engkau dapatkan dari penjual ikan di paotere.