Opini

Refleksi Milad Emas KAHMI

KAHMI Makassar dapat menjadi titik tolak dan barometer untuk menakar peran strategis KAHMI pada masa mendatang.

Refleksi Milad Emas KAHMI
drg Rustan Ambo Asse 

Oleh drg Rustan Ambo Asse

Alumni HMI Komisariat Kedokteran Gigi Unhas-Mahasiswa PPDGS Prostodonsia FKG UNHAS

Dalam usia yang ke-50 tahun, Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) memiliki rentang sejarah dan pengalaman yang cukup panjang dalam menunjukkan kiprah dan eksistensinya. Pengalaman yang tidak terlepas dari dinamika, peran strategis dan segala pengabdian alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di negeri ini dari kota hingga ke pelosok negeri terpencil.

Ini menunjukkan bahwa tidak sedikit alumni HMI yang secara diam-diam memberi sumbangsih karya dan pengabdian untuk menjadi pelopor bangkitnya masyarakat sipil (civil society) pada semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegara: politik, social, ekonomi, hingga seorang guru dan dokter yang rela menetap di tempat-tempat terpencil untuk tetap bangkit sebagai insan cita HMI.

Politik KAHMI
Di wajah publik, alumni HMI dan dinamika politik di Indonesia kerap menjadi sebuah diskursus tersendiri. Bahwa apakah wajah dinamika politik di Indonesia identik dengan ‘alumni HMI’? Apakah dengan tertangkapnya anggota DPR dan atau pejabat public yang notabene alumni HMI berkolerasi positif dengan ideologi dan tujuan HMI?

Maka jawaban akan pertanyaan tersebut tidak akan objektif jika HMI dan KAHMI tidak dipandang secara utuh sebagai salah satu elemen bangsa, di mana pada konteks politik misalnya keberagaman dan kesetraan eksponen lain diluar HMI tidak dipandang secara proporsional dalam carut-marutnya dinamika politik di Indonesia.

Politik adalah sebuah jalan, jalan yang bisa dibuat benar dan dapat pula direkayasa menjadi sebuah jalan yang menindas.

Siapa yang akan bergerak mengangkat bahu mereka yang lemah? Siapa yang akan memberi gagasan tentang ketahanan pangan dan kesejahteraan rakyat? Siapa yang akan memulai membangkitkan semangat bertadarus di masjid-masjid? Jawabanya adalah mereka progresif, pembaharu dan pemuda-pemuda Islam yang tidak terlena dengan arus zaman.

Saya terharu sekaligus berbahagia melihat seorang balita dikelilingi tim dokter bedah mulut Celebes Cleft Center di ruang OK di sebuah rumah sakit UIT Makassar, perlahan dan pasti bocah itu membuat orangtuanya tersenyum.

Operasi bibir sumbing dan celah langit-langit berhasil, kini pada masa yang akan datang anak kecil itu akan bangkit di tengah masyarakat dengan kepercayaan diri. Dia pun dapat menerima asupan gizi yang baik tidak seperti sebelumnya waktu masih menderita celah langit-langit.

Halaman
123
Editor: Jumadi Mappanganro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved