Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Topang Pertumbuhan Ekonomi Sulsel, Bank Indonesia Dorong Sektor Maritim

Jumlah tersebut sedikit melambat dibanding kuartal II dengan pertumbuhan di angka 3,7 persen yoy

Tayang:
Penulis: Sakinah Sudin | Editor: Anita Kusuma Wardana
TRIBUN TIMUR/SAKINAH SUDIN
Kepala Perwakilan BI Provinsi Sulsel Wiwiek Sisto Widayat 

Laporan Wartawan Tribun Timur, Sakinah Sudin

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR- Manajemen Bank Indonesia (BI) memproyeksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal III dan IV 2016 akan tumbuh cukup baik masing-masing di angka 7,6-8 persen secara year on year (yoy). Meski memang tidak sebagus pencapaian di kuartal II sebesar 8,05 persen yoy.

Hal ini karena adanya sejumlah hal yang diprediksi terjadi di kuartal III, diantaranya potensi El Nino dan baru masuk masa tanam padi. Alhasil, sektor pertanian (termasuk juga kehutanan dan perikanan) akan melandai dengan proyeksi pertumbuhan di kuartal tersebut sekitar 2,5-2,5 persen yoy.

Jumlah tersebut sedikit melambat dibanding kuartal II dengan pertumbuhan di angka 3,7 persen yoy. Padahal sektor tersebut memberikan kontribusi sebesar sekitar 20 persen dari total pertumbuhan di Sulsel.

"Menyadari hal tersebut, maka kami (BI) mengusulkan adanya perhatian di sektor kemaritiman yang memiliki potensi sebagai penopang pertumbuhan ekonomi," kata Kepala Perwakilan BI Provinsi Sulsel Wiwiek Sisto Widayat, dalam sambutannya pada Diseminasi Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional periode Agustus 2016 bertajuk Menjemput Harapan dengan Membangun Infrastruktur Kemaritiman do Four Points Makassar by Sheraton, Rabu (14/9/2016).

Hadir dalam kegiatan Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo (SYL). Juga ekonomi nasional, M Ikhsan Modjo, dan Kepala Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPB) Kantor Wilayah (Kanwil) Provinsi Sulsel, Alfiker Siringoringo, dan pengamat ekonomi Hamid Paddu. (*)

Sebenarnya, lanjut Wiwiek, dari segi produktivitas serta nilai produksi perikanan di KTI, baik tangkap maupun budidaya merupakan yang tertinggi dibanding wilayah lainnya (di Indonesia), yang terkonsentrasi di Sulsel, NTT, Maluku, dan Sulteng. Namun, kesejahteraan masyatakat, terutama para nelayan belum terjamin atau belum sesuai (sepadan) dengan baiknya produktivitas tersebut.

Wiwiek menjelaskan ada beberapa kendala yang menyebabkan terjadinya hal itu. Salah satunya produksi masih terkonsentrasi pada low value fish yaitu demersial dan rumput laut sehingga ekspor KTI relatif bernilai lebih rendah dibanding kawasan lainnya yang mayoritas ekspor pada komoditas high value fish yakni udang.

Kendala lainnya adalah infrastruktur pendukung sektor kemaritiman yang masih sangat minim, khususnya pelabuhan perikanan, dibanding negara-negera maritim lainnya. Perlengkapan kapal perikanan Indonesia juga masih berkapasitas kecil.

Masih terdapat defisit kebutuhan cold storage dan minimnya sumber daya manusia (SDM) yang ahli di bidang maritim juga menjadi kendala. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved