Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Piala Eropa 2016

Ulasan Sepakbola: Brexit Jilid Dua

HANYA DALAM WAKTU 5 HARI atau kurang dari sepekan Inggeris mengalami dua kali exit.

Editor: Ina Maharani

oleh: Willy Kumurur

HANYA DALAM WAKTU 5 HARI atau kurang dari sepekan Inggeris mengalami dua kali exit. Britain Exit (Brexit) terjadi pada tanggl 23 Juni 2016 tatkala referendum menyatakan bahwa Inggeris keluar dari Uni Eropa. Mata uang Brotania Raya, poundsterling, menukik tajam alias terjun bebas sampai sepiuluh persen; dan ini merupakan kali pertama poundsterling terpuruk sejak tahun 1985. “Brexit” Jilid 2 terjadi pada tanggl 28 Juni 2016 ketika Inggeris tersingkir dari panggung sepak bola Eropa (EURO 2016).

Jika Brexit Jilid 1 terjadi atas kehendak 52% rakyat Britania Raya, maka Brexit Jilid 2 merupakan kehendak 11 orang pemain Islandia. ‘Exit’ nya Inggeris dari Uni Eropa dan EURO 2016, melahirkan akibat yang serupa tapi tak sama: Perdana Menteri Inggeris David Cameron mengundurkan diri, sedangkan Manajer Tim Nasional Inggeris, Roy Hodgson, mundur dalam hitungan menit.

Padahal pada pekan-pekan ini penggemar Inggeris sedang siap-siap untuk merayakan peringatan ke-50 keberhasilan Inggris menjadi juara Piala Dunia 1966; namun segalanya menjadi sia-sia akibat tersingkirnya Wayne Rooney dan rekan-rekannya dari pentas “Para Dewa” Bola EURO 2016. Sungguh sebuah ironi, negara penemu sepakbola mesti takluk kepada sebuah negara kecil yang tak terkenal dalam dunia bola. Gagalnya Inggeris melaju ke 8 besar EURO 2016 dianggap sebagai kekalahan terburuk sejak takluk dari barisan pemain amatir Amerika Serikat pada Piala Dunia 1950. "Padahal beberapa di antara para pemain Islandia ini adalah pemain paruh waktu, bukan pemain profesional," kata mantan pemain timnas Inggeris, Peter Crouch, sebagai komentator di stasiun televisi ITV.

Jika Inggeris tengah meratapi keterpurukan mereka, maka Islandia kini berada di puncak keteduhan jiwanya. Di Islandia, yang berpenduduk sama dengan sebuah kabupaten kecil di Indonesia, orang-orang larut dalam tangis haru. Mereka memeluk orang-orang asing yang mereka temui di jalanan dan menari-nari di jalan-jalan setelah tim kesayangan mereka secara dramatis menang 2-1, mendepak Inggeris sekaligus membawa tim mereka ke perempat final melawan Perancis.

"Sungguh sebuah ironi yang indah. #Inggris di-KO dari #Euro2016 oleh negara yang bahkan bukan anggota Uni Eropa! Mungkin itulah alasannya mereka menekan tombol #Brexit," canda seorang pengguna Twitter.

Presiden Islandia, Gudni Johannesson, yang baru saja terpilih pada tanggal 26 Juni 2016, mengatakan kepada The Guardian, "Inilah kemenangan terbesar dalam sejarah Islandia. Johannesson adalah seorang sejarawan, yang pernah belajar selama bertahun-tahun di Inggris di Universitas Warwick, Oxford dan Queen Mary. Sedangkan Perdana Menteri Islandia, Sigurdur Ingi Johannsson, memilih Facebook untuk mengekspresikan sukacitanya, "Betapa fantastisnya menjadi orang Islandia."

Pelatih Islandia, Lars Lagerback, mengungkapkan bahwa kunci kemenangan Islandia adalah kemampuan bertahan yang mumpuni, organisasi tim, serta kecerdikan membaca permainan yang diterapkan Inggris.

Walau Islandia negara kecil, dan bagai pelanduk dalam dunia bola, Islandia lah yang menyingkirkan Belanda di babak kualifikasi EURO 2016. Mereka tak hanya siap menghadapi Perancis di babak perempat final, mereka bahkan siap menggusur Perancis. Bola terus bergulir, meninggalkan mereka yang kalah dan tersingkir; bola terus digiring oleh mereka yang menang, dengan seribu satu malam kisah kemenangan.

Sekali Anda mendengar rincian kemenangan, maka akan sulit untuk membedakannya dari kekalahan, ujar filsuf masyhur Perancis, Jean-Paul Sartre

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved