Siswi Bone Ini Ingin MOS Tetap Ada, Asal!
Mulai tahun ajaran baru 2016 ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI mengeluarkan aturan segala macam perpeloncoan tidak lagi diperbolehkan
Penulis: Justang Muhammad | Editor: Imam Wahyudi
TRIBUNBONE.COM, TELLU SIATTINGE - Ayu Safitri Wulandari (16), siswi Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Tellu Siattinge, Bone, menanggapi adanya larangan pelaksanaan Masa Orientasi Siswa (MOS) bagi siswa baru.
Dara kelahiran Desa Solo, Kecamatan Dua Boccoe, Bone ini, setuju MOS tetap dilaksanakan namun dalam batas kewajaran
"Saya setuju sih jika pelaksanaan MOS jika seperti di sekolah, pelaksanaannya itu beda dari yang lain. Nggak pakai atribut kampungan seperti karton, kantong kresek, karung, dll," katanya, kepada tribunbone.com, Selasa (21/6/2016)
"Terus siswa baru juga tidak disiksa. Saya dulu palingan goyang bersama di lapangan, itu hukuman bagi yang terlambat datang atau lupa membawa sesuatu yang diperintahkan, latihan baris berbaris, intinya yang sewajarnyalah," tambahnya.
Ayu menolak MOS kalau disertai kekerasan fisik.
Mulai tahun ajaran baru 2016 ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI mengeluarkan aturan segala macam perpeloncoan tidak lagi diperbolehkan untuk siswa baru.
Hal tersebut diatur dalam Permendikbud Nomor 18 Tahun 2016 tentang Pengenalan Lingkungan Sekolah Bagi Siswa Baru.
Masa Orientasi Siswa (MOS) berubah menjadi Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/ayu-safitri-wulandari_20160621_225805.jpg)