Laporan on the Spot
Enjoy Sydney, Ada Kebun Binatang Ber-AC
Tempat itu dijelajahi melalui jalan kaki tanpa mandi keringat.
Penulis: Edi Sumardi | Editor: Edi Sumardi
Edi Sumardi
Jurnalis Tribun
Melaporkan dari Sydney, Australia
MERAYAKAN pembukaan Australian Consulate-General Makassar, Australian Embassy Jakarta mengajak lima jurnalis dari Makassar, Sulawesi Selatan, termasuk saya jurnalis Tribun, mengunjungi Australia selama sepekan.
Kunjungan dimulai Senin (23/5/2016) yang ditandatai melalui ajakan kepada jurnalis untuk menghadiri afternoon tea di kantor Australian Consulate-General Makassar, Wisma Kalla, Jl Jenderal Sudirman, Makassar.
Beberapa jam sebelum itu, kami diperkenalkan program kemitraan Indonesia dengan Australia yang telah terbangun.
"Bahwa selama ini banyak kemitraan yang sudah dibangun antara Australia dengan Indonesia," kata Vice Consul Australian Consulate-General Makassar, Anne Dickson.
Misalnya, dalam bidang pendidikan, seni-budaya, dan infrastruktur.
Nah, setelah itu, pada Senin malam, kami berangkat Sydney, New South Wales, Australia.
Keberangkatan dimulai pada penerbangan dari Makassar ke Denpasar, Bali selama 1,5 jam.
Transit selama 2,5 jam, lalu penerbangan dilanjutkan ke Sydney selama enam jam.
Kami tiba di Sydney pada Selasa pagi.
Perjalanan dari Makassar ke Sydney butuh waktu 10 jam jika menggunakan pesawat maskapai Garuda Indonesia.
Jarak tempuh kedua kota itu sejauh
Sydney adalah kota terbesar di Australia dan bahkan mengalahkan Canberra sebagai ibu kota negara Australia.
Hari pertama di Sydney diisi melalui kunjungan ke Darling Harbour, Sydney Opera House, dan The Rocks pada sore hari.
Mendengar atau membaca kata "Darling", mungkin terpintas di benak adalah "Sayang".
Padahal, penamaan itu diambil dari nama Gubernur New South Wales pada tahun 1825 hingga 1831, Letnan Jenderal Ralph Darling.
Darling Harbour kini adalah kawasan pemukiman, wisata, pelabuhan bagi yacht.
Di sini terdapat tempat wisata dan fasilitas umum kelas dunia, yakni Harbourside Shopping Centre,Sydney Entertainment Centre, Paddy's Market, Sydney's Chinese Gardens, Tumbalong Park, Sydney Convention and Exhibition Centre.
Juga Australian National Maritime Museum, Star City Casino, Powerhouse Museum, Sydney Aquarium, bioskop LG IMAX Theatre, Sydney Wildlife World, dan Aboriginal Centre.
Kami sempat memasuki Sydney Wildlife World setelah membeli tiket seharga 20 dollar Australia (setara Rp 190-an ribu) per orang.
Di sini terdapat koleksi satwa dari jinak hingga buas.
Ada koala dan kanguru yang lucu, buaya raksasa, iguana, dan satwa lainnya yang sulit ditemukan di Indonesia.
Sydney Wildlife World tak hanya menawarkan binatang langka, namun juga sebagai kebun binatang indoor dan ber-AC di dunia.
Di Indonesia, mungkin tak pernah ditemui kebun binatang dalam ruang ber-AC.
Kami mengunjungi kebun binatang itu ditemani Media and Strategic Communication Australian Embassy Jakarta, Emy Fitrihastuti dan Executive Officer Indonesia Strategic, Political, and Governance Section Department of Foreign and Trade Australian Government, Jane Edquist.
Jane, sapaan wanita asal Canberra ini, menjadi tour guide kami di Sydney.
Dia banyak mengetahui seluk-beluk kota dunia ini.
Setelah Darling Harbour, kami mengunjungi Sydney Opera House, ikon Australia dan kini menjadi world heritage oleh UNESCO.
Tak ada kesempatan untuk masuk ke dalam gedung pertunjukan yang menjadi destinasi utama wisatawan di Negeri Kanguru ini sebab pertunjukan pada sore hari kemarin belum dimulai.
Wisatawan dari berbagai negara lalu-lalang di sekitar gedung sambil menikmati pemandangan Sydney Harbour Bridge, jembatan terbesar di Australia, di seberang Sydney Opera House.
Ketika mempromosikan wisata Australia terkhusus Sydney, foto atau video Sydney Harbour Bridge dan Sydney Opera House pun selalu muncul.
Pada Kamis (26/5/2016), akan ada pesta cahaya lampu di sekitar Sydney Harbour Bridge dan Sydney Opera House oleh seniman lintas negara, Vivid Sydney.
Ini adalah pesta tahunan yang mampu menyedot wisatawan dari berbagai negara.
Kami sempat menyaksikan instalasi lampu mulai dirampungkan, Selasa hari ini.
Namun, kami harus berbesar hati sebab tak dapat menyaksikan pesta yang menawarkan tiga konsep – cahaya, musik, dan ide – yang berlangsung selama tiga pekan ini sebab harus ke Darwin, Northern Territory, Rabu (25/5), besok malam, guna menghadiri agenda penting terkait kemitraan Indonesia dengan Australia.
Perjalanan, kemarin, berakhir di The Rocks, kawasan kota tua di pinggiran Sydney.
Di sini terdapat sejumlah bangunan berusia ratusan tahun namun tetap artistik karena dikola secara baik.
Tempat itu dijelajahi melalui jalan kaki.
Mengapa?
Berjalan kaki di Sydney sungguh nyaman sebab aktivitas lalu lintas sangat tertib dan udara begitu dingin (hingga 18 derajat Celcius, hari ini).
Tak pernah ada kekhawatiran bakal mandi keringat setelah jalan kaki beberapa kilometer.
Sydney membuat kami enjoy.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/kanguru_20160524_212042.jpg)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/sydney-wildlife-world_20160524_210802.jpg)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/sydney-opera-house_20160524_211843.jpg)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/sydney-harbour-bridge_20160524_211811.jpg)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/the-rocks_20160524_211526.jpg)