MIWF 2016

Dewi Lestari Berbagi Proses Kreatif Supernova di MIWF 2016

Salah satu kunci menjadi penulis serial adalah fokus

Dewi Lestari Berbagi Proses Kreatif Supernova di MIWF 2016
TRIBUN TIMUR/ANITA K WARDANA
Penulis heksalogi Supernova, Dewi Lestari berbagai cerita seputar proses kreatif penulisan enam buku serial Supernova di acara Makassar International Writers Festival 2016 di Fort Rotterdam, Rabu (18/5/2016). 

Laporan Wartawan Tribun Timur, Anita Wardana

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR-Penulis heksalogi Supernova, Dewi Lestari berbagai cerita seputar proses kreatif penulisan enam buku serial Supernova di acara Makassar International Writers Festival 2016 di Fort Rotterdam, Rabu (18/5/2016).

Acara bertajuk "Growing Up with Supernova" tersebut dipandu Direktur Rumata' Artspace, Lily Yulianty Farid.

"Dee adalah salah satu penulis yang rela meluangkan waktunya untuk berpartisipasi dalam MIWF tahun ini,"kata Lily.

Sementara itu, Dee menceritakan, ia mulai menulis serial Supernova pertama, yakni Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh pada tahun 2000, saat ia masih berusia 25 tahun.

Ia pun menjadikan buku tersebut merupakan novel pertama yang ia publish tanpa menggandeng penerbit dan menjadi kado bagi dirinya sendiri. Pasalnya, sejak kecil ia memimpikan melihat karyanya dipajang di toko buku.

"Setelah buku ini selesai, saya sudah yakin cerita ini tidak berakhir disini. Akhirnya, saya berencana membuat buku trilogi. Namun, rencana itu batal hingga menjadi heksalogi karena untuk menggambarkan satu karakter, contohnya Akar jadi dalam satu buku,"kata Dee.

Setelah itu, Dee pun kembali menulis seri supernova lain, mulai dari Akar, Petir, Partikel, Gelombang hingga seri pamungkas Supernova, yakni Intelegensi Embun Pagi.

Namun, untuk melahirkan Partikel setelah Petir, Dee butuh waktu delapan tahun. Pasalnya, kala itu ia mulai berkeluarga dan memiliki anak yang mengubah ritme menulisnya.

"Intelegensi Embun Pagi menjadi puncak Everest bagi saya. Jadi menjadi semangat bagi saya menyelesaikannya untuk mencapai puncak saya. Tapi, saat draf IEP selesai hampir 80 persen, saya sedih sendiri karena harus berpisah dengan semesta yang saya ciptakan sendiri dengan menuliskan kata tamat,"jelasnya.

Pada kesempatan tersebut, Dee juga berbagi tips menjadi penulis serial yang baik. Menurutnya, salah satu kunci menjadi penulis serial adalah fokus dan menjaga semangat untuk menyusun setiap kepingan cerita menjadi satu kesatuan.

Saat menulis serial Supernova, Dee mengakui banyak melakukan riset, termasuk banyak membaca buku-buku non fiksi.(*)

Penulis: Anita Kusuma Wardana
Editor: Suryana Anas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved