Ini Alasan Sapi Bebas Berkeliaran di TPA Antang
Syahrul pun nampak berkaca-kaca mendengar dukungan dari Arsyadjuliandi Rachman.
Penulis: Saldy Irawan | Editor: Ina Maharani
Laporan wartawan Tribun Timur, Saldy
TRIBUN-TIMUR.COM,MAKASSAR - Kemacetan di jalur poros antara Makassar - Gowa karena ulah sapi di Tamangapa Raya, Kecamatan Manggala bakal berlanjut hingga empat atau lima tahun kedepan.
Hal tersebut diakui oleh Kadis Kelautan Perikanan Pertanian dan Peternakan Kota Makassar, Abd Rahman Bando, jika Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Tamangapa tidak segera di pagar.
Minggu (27/3/2016), Rahman mengatakan kota Makassar saat ini telah memiliki Perwali tentang kelurahan bebas ternak, namun itu tidak berlaku untuk semua wilayah.
Adapun Kelurahan Manggala, Bangkala, dan Tamangapa di Kecamatan Manggala sendiri, tidak masuk dalam kawasan bebas ternak.
Olehnya itu, warga masih bisa beternak di wilayah tempat ia bermukim.
Namun perlu menjadi catatan, untuk beternak, itu tidak serta merta beternak dengan menunggu hasil.
Ada aturan untuk memelihara hewan ternak, salah satu garis besarnya adalah kandang.
"Nah, di Tamangapa itu warga punya kandang, tapi pemiliknya malas cari pakan sehingga ia memilih TPA sebagai warung makannya," ujar Rahman.
Sebabnya, ketika Sapi ini turun ke TPA ia kerap memacetkan jalur poros Makassar Gowa hingga berjam-jam.
Jadwalnya, yakni Pagi menuju TPA, dan pulang ke kandang Sore menuju kandang.
Bukan hanya 10 ekor atau 20 Sapi, di Tamangapa ada ratusan ekor Sapi yang sering melintas di jalur poros.
Rahman melanjutkan, beberapa upaya yang dilakukan pemerintah baik pendekatan persuasif atau penyuratan, tapi tetap saja diabaikan.
Menurutnya, meski pemerintah menertibkan Sapi itu, pemerintah juga tidak memiliki tempat budi daya, dan lokasi pemasaran.
"Tidak ada karantinanya juga, mau disimpan dimana. Inimi jadi masalah. Kita usul angaran ditolak terus," katanya
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/sapi-antang1_20151224_160104.jpg)