CITIZEN REPORTER
Rumana Sulsel Diskusi Rawan Pangan di IPB
Kegiatan dilatarbelakangi melonjaknya harga komoditas seperti daging sapi, daging ayam, beras, jagung serta beberapa komoditas lain.
Penulis: CitizenReporter | Editor: Anita Kusuma Wardana
Riza Darma Putra SSos MIkom
Ketua Rumana IPB Sulsel
Melaporkan dari Bogor
TRIBUN-TIMUR.COM-Mengapa harga pangan mengalami kenaikan? Apa yang harus dilakukan oleh berbagai pihak untuk mengatasi masalah pangan itu? Demikian pertanyaan pemantik diskusi reguler Forum Mahasiswa Pasca Sarjana IPB Sulawesi Selatan (Rumana IPB Sulsel) Diskusi ini bertempat di pelatran Graha Widya Wisuda Kampus IPB Dramaga beberapa waktu yang lalu.
Seri diskusi ini bertemakan "Melonjaknya harga pangan, apa yang harus dilakukan?". Kegiatan dilatarbelakangi melonjaknya harga komoditas seperti daging sapi, daging ayam, beras, jagung serta beberapa komoditas lain.
Menurut Adhyanti selaku koordinator acara, saat inipeningkatan harga pangan akan sangat berpengaruh terhadap daya beli masyarakat. Hal itu selanjutnya berdampak pada konsumsi rumah tangga dan perubahan status gizi masyarakat.
Masyarakat miskin merupakan kelompok yang paling rentan terkena dampak peningkatan harga pangan ini. Masyarakat miskin sebagian besar terkonsentrasi di desa dan berprofesi sebagai petani peternak dan nelayan. Sebanyak 60 persen penduduk miskin Indonesia terkonsentrasi di pedesaan sedangkan sisanya di perkotaan.
Lebih lanjut Sekretaris Umum Rumana IPB Sulsel ini mengatakan, kegiatan tersebut menghadirkan tiga orang pembicara yakni, Muhammad Mu'min Fahmudin Direktur Harian Sekolah Drone Desa IPB, Anas Qurniawan, Pengurus Pusat Perhimpunan Sarjana Pertanian Indosia (PISPI), dan Harna (mahasiswa Program pasca sarjana IPB Bogor).
Dalam diskusi itu terungkap sejumlah fakta penyebab kenaikan harga beberapa komoditas pangan. Hal inidikarenakan adanya perbedaan konsep antara Kementerian perdagangan dengan kementerian pertanian terkait kebijakan impor sapi maupun beras.
Dugaan permainan kartel perusahaan pengelolah pangan juga disinyalir menjadi biang kerok kenaikan harga pangan. Selain itu, masifnya konversi lahan pertanian menjadi lahan industri, krisis lingkungan termasuk krisis air dan el-nino, rendahnya posisi tawar petani, infrastruktur pertanian seperti waduk dan irigasi yang masih rendah, serta arus urbanisasi dianggap sebagai pemicu ketidakstabilan pangan.
Mahasiswa Program Pascasarjana Ilmu Gizi Masyarakat ini menambahkan, ada sejumlah solusi yang ditawarkan untuk mengatasi kerawanan pangan. Misalnya saja mencari alternatif pengganti beras sebagai kebutuhan pokok pangan.
Selain itu perlunya interkoneksi sektor terkaitguna validasi data, perlunya reorientasi kebijakan pertanian berbasis keunikan karakteristik wilayah masing-masing.
Hal lain yang juga penting dilakukan yaitu advokasi kelompok petani terkait penguasaan teknologi tepat guna untuk peningkatan produksi, serta pentingnya konsistensi penerapan dan pengawalan UU perlindungan lahan pangan. Adhyanti menambahkan diskusi ini akan terus dilakukan secara berseri oleh Pengurus Rumana Sulawesi Selatan.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/tribun-timurcom-large_20150428_150258.jpg)