Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

CITIZEN REPORTER

AIM Ajak Pemuda Makassar Peduli Kusta

reka anak muda yang tergabung dalam gerakan sosial yang memberdayakan para pengemis yang berlokasi di kampung Binaan Dangko Jongaya.

Penulis: CitizenReporter | Editor: Anita Kusuma Wardana

Muhammad Saleh

Tim Media AIM

Melaporkan dari Makassar

TRIBUN-TIMUR.COM- Komunitas yang menghimpun anak muda Makassar yang aktif dalam melakukan pemberdayaan masyarakat marginal, mengajak para pemuda Makassar untuk peduli kusta.

Komunitas yang lebih akrab dikenal dengan sebutan Aksi Indonesia Muda (AIM). Mereka anak muda yang tergabung dalam gerakan sosial yang memberdayakan para pengemis yang berlokasi di kampung Binaan Dangko Jongaya Kelurahan Ballangbaru Makassar.

Menurut Sekretaris Jenderal AIM, Sulaiman, sebagai anak muda Makassar harus mengubah mindset atau pola pikir kita mengenai para mantan penderita kusta tidak seperti yang umumnya masyarakat fikirkan bahwa penyakis kusta itu tidak menular, Berbicara tentang penyakit kusta, yang terlintas dibenak kita rasa jijik dan takut tertular.

Karna itulah terkadang penderita kusta terkucilkan tidak banyak orang yang kasihan kepada mereka dihari kusta internasional yang jatuh pada hari ini minggu 31 Januari 2016 kami mengajak anak muda Makassar untuk bermanfaat kepada para penderita kusta, anak muda jangan hanya suka berteori dan pandai mengkritik tapi anak muda harus ada Aksi nyata.

Sulaiman menambahkan bahwa pada nyatanya kusta itu tidak menular dan kusta bukan penyakit yang gampang tertular. Akibatnya daerah yang didangko merupakan daerah perkampungan kusta yang terisolir dari masyarakat luar, sekaligus termarjinalkan oleh suluruh masyakat pada umumnya.

Sebagain besar warga dangko berprofesi sebagai pengemis dan juru parkir, sehingga daerah ini terkenal sebagai daerah penghasil pengemis di kota Makassar. Meskipun demikian, mereka juga punya kemauan yang sangat besar untuk bekerja jika saja ada yang mau memfasilitasi mereka. Mereka juga manusia, punya rasa malu jika terus terusan harus mengemis dijalanan Sekarang semenjak adanya patrol pengamanan pengemis dan anak jalanan.

"Akhirnya mereka hidup terkatung-katung tidak tahu harus berbuat apa dan jumlahnya sangat banyak yang berdomisili dikampung Dangko serta minimnya keterampilan masyarakat akibat keterbatasan akses,"kata Sulaiman, Minggu (31/1/2016).

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved