ICMI Maros: Seseorang Bisa Dipengaruhi Gafatar Karena Stres Cari Jati Diri
Menurutnya, pada suatu aliran terdapat proses cuci otak, sehingga anggota aliran Gafatar tersebut bisa saja stres terhadap satu keadaan.
Penulis: Ansar | Editor: Anita Kusuma Wardana
Laporan Wartawan Tribun Timur, Ansar Lempe
TRIBUN-TIMUR.COM, MAROS - Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Maros, Syamsu Alam menanggapi adanya oknum PNS Maros yang sempat menghilang karena mengikuti aliran Gafatar, Minggu (24/1/2016).
Padahal, satu keluarga yang berdomisili Kelurahan Pettuadae, Kecamatan Turikale Maros tersebut merupakan alumni pesantren DDI Mangkoso dan berasal dari keluarga cukup mapan.
"Seorang bisa dipengaruhi paham tertentu karena adanya faktor kekecewaan atau stres akibat proses pencarian jati diri yang tidak bisa didapatkannya didalam kehidupannya," kata Ketua ICMI Maros, Syamsu Alam, Minggu (24/1/2016).
Menurutnya, pada suatu aliran terdapat proses cuci otak, sehingga anggota aliran Gafatar tersebut bisa saja stres terhadap satu keadaan.
"Mungkin dia ikut karena belum menemukan apa yang dicarinya, baik dari sisi sosial ataupun keagamaan,"ujarnya.
Syamsu Alam menjelaskan, Taufik bin Asiz (35) bersama istrinya Janawanti binti H Nurdin (32), serta kedua putranya, Radit (8) dan Gazi (5) menghilang, karena ada suatu hal yang dia cari dan jawabannya hanya ada pada aliran tersebut.
Pada akhirnya, keluarga tersebut rela mengorbankan kehidupannya yang sudah mapan untuk ikut terlibat secara langsung didalamnya.
"Kadang manusia itu jenuh ritualitas keagamaan yang dijalankannya. Dia menginginkan suatu hal yang jawabannya belum diketahuinya, sehingga dia menemukan aliran tersebut," katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/syamsu-alam_20160124_120457.jpg)