opini
Tantangan Komunikasi di Era MEA
Komunikasi menjadi sangat signifikan untuk bisa bersaing dalam kancah pasar ASEAN. Siapa yang menguasai komunikasi, maka akan memenangkan persaingan.
Oleh: Muannas
Pengurus Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) Sulsel
Beroperasinya pasar terbuka Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) menjadi kado istimewa tahun baru 2016. Tak ada lagi tembok proteksi bagi negara-negara ASEAN dalam aktifitas ekonominya.
Itu berarti terjadi penyatuan kegiatan ekonomi bagi masyarakat ASEAN. Seperti halnya penyatuan Eropa pasca runtuhnya tembok Berlin pada tahun 1989, disusul runtuhnya kekaisaran Soviet pada tahun 1991.
Meski, dalam MEA belum dikenal adanya penyatuan mata uang ASEAN. MEA menjadi sebuah kawasan ekonomi terintegrasi antara semua negara-negara ASEAN. Tanpa sekat, tanpa pembatas. Semua berbaur, bercampur secara bebas dalam pasar terbuka komunitas regional ASEAN.
Dengan adanya MEA, arus perdagangan, jasa, dan sumber daya manusia tidak bisa lagi diproteksi oleh negara. Bakal terjadi aliran barang dan jasa, modal, investasi maupun aliran bebas tenaga kerja.
Tentulah hal tersebut menjadi peluang sekaligus tantangan besar, bahkan sekaligus ancaman. Pilihannya terpulang pada diri kita masing-masing dan bangsa Indonesia, apakah akan menjadikannya peluang atau ancaman.
Seyogyanya MEA tidaklah bisa dilihat sebagai peristiwa ekonomi belaka. MEA merupakan peristiwa komunikasi.
Sayangnya, hal ini kurang disadari sejak dari awal oleh pemangku kepentingan. Terbukti, hingga detik-detik pemberlakuannya, ternyata masih banyak masyarakat yang tidak paham tentang MEA.
Ketidakpahaman masyarakat menunjukkan lemahnya komunikasi kebijakan pemerintah. Padahal, komitmen untuk melahirkan MEA sudah disepakati jauh-jauh hari, Januari 2007 dalam Konferensi Tingkat Tinggi XII ASEAN di Cebu, Filipina.
Lemahnya komunikasi (sosialisasi) mengharuskan pemberlakuannya pun mengalami penundaaan yang seharusnya 1 Januari 2015 menjadi 31 Desember 2015.
Merujuk survei Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada Mei 2015 menunjukkan bahwa tingkat pemahaman masyarakat (konsumen dan produsen) masih rendah.
Kebanyakan masyarakat sekedar tahu bahwa MEA membuka peluang baru bagi perdagangan komoditas barang di kawasan ASEAN. Sementara pemahaman soal pergerakan bebas sektor jasa dan tenaga kerja sangat minim.
Begitu pun hasil survei Litbang Kompas pada awal November lalu, menunjukkan, 57 persen responden tidak tahu MEA akan diterapkan pada akhir Desember ini.
Komunikasi menjadi sangat signifikan untuk bisa bersaing dalam kancah pasar tunggal ASEAN. Siapa yang menguasai komunikasi, maka akan memenangkan persaingan.