Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Rektor UMI Prihatin Perilaku Generasi Muda yang Jauh dari Al Quran

Kegiatan ini mengangkat tema Meningkatkan Kualitas Kehidupan Keagamaan Masyarakat dalam Menjawab Problema Sosial Bangsa.

Penulis: Hasrul | Editor: Anita Kusuma Wardana
HANDOVER/HUMAS UMI
Prof Masrurah menjadi salah satu narasumber dalam Halaqah Nasional dan Workshop Ulama Perempuan untuk penguatan materi dakwah Hidmat Muslimat Nahdatul Ulama (NU) di Hotel Surabaya Suite, Jumat (18/12/2015). 

Laporan Wartawan Tribun Timur, Hasrul

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR-Rektor Universitas Muslim Indonesia (UMI) Prof Dr Masrurah Mokhtar MA mendapat kepercayaan sebagai salah satu narasumber dalam Halaqah Nasional dan Workshop Ulama Perempuan untuk penguatan materi dakwah Hidmat Muslimat Nahdatul Ulama (NU) di Hotel Surabaya Suite, Jumat (18/12/2015).

Kegiatan ini mengangkat tema Meningkatkan Kualitas Kehidupan Keagamaan Masyarakat dalam Menjawab Problema Sosial Bangsa.

Masrurah, yang juga Ketua Umum BKS PTIS ini diberi amanah menyampaikan materi Problema Unwanted Children dan Upaya Strategis Mencari Solusi (Upaya Mereduksi kasus, Pola Pengasuhan, Pemenuhan Hak Menurut Perspektif Sosiologis).

Seperti dikutip dalam rilis yang diterima, Prof Masrurah dalam materinya mengatakan bahwa saat ini beragam persoalan sedang dihadapi umat Islam di Indonesia mulai dari personal seperti ibadah ritual hingga masalah yang mempengaruhi masa depan bangsa dan Negara serta keutuhan NKRI.

Potret kehidupan saat ini maraknya penyimpangan remaja merupakan salah satu dari sekian banyak masalah sosial yang memilukan semakin merebak pada waktu sekarang ini.

Resiko meningkatnya perilaku seks pra nikah dan seks bebas tidak dapat dihindari akibat perkembangan budaya moderen dan meningkatnya usia pasangan nikah.

Disisi lain, remaja adalah generasi penerus yang masih memungkinkan potensi sumberdaya manusianya berkembang, sehingga pada saatnya akan menggantikan generasi sebelumnya menjadi pemimpin-pemimpin bangsa.

Lanjut dikatakan, kehamilan yang tidak diinginkan berdampak pada penolakan keluarga, timbul kerentangan psikologis dan biologis serta pertumbuhan dan perkembangan otak dan janin yang tidak maksimal.

Dari aspek kesehatan, kurangnya persiapan prenatal dan kemungkinan menderita penyakit tertentu dan kematian, dari aspek sosial, perceraian orang tua, kemiskinan, KDRT, kenakalan remaja, dan secara psikolog hasil penelitian pada orang dewasa berumur 23 tahun menunjukkan bahwa unwanted children memiliki kepercayaan diri yang lebih rendah daripada wanted children.

“Apakah kita tidak khawatir dengan lingkungan disekitar kita, bila satu saat mereka menjadi generasi yang jauh dari ajaran Islam, anak kita saat ini, akan menjadi pemimpin 30 tahun kedepan. Karena itu, apakah kita tidak risau bila meninggalkan anak-anak dan cucu-cucu kita yang selalu mengikuti keinginan hawa nafsunya, dan jauh dari Al-Qur’an dan Sunnah" Kata Prof Masrurah.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved