Cara Cina Balas Gertak Kapal Perang Amerika
Cina mengklaim, kapal perangnya terus mengikuti USS Lassen
TRIBUN-TIMUR.COM- Belum lama ini, Cina dikabarkan mengancam menindak tegas patroli kapal perang Amerika Serikat (AS) di Laut Cina Selatan. Pasalnya, Beijing menuding manuver itu sebagai provokasi. Sedangkan Amerika menyebut pihaknya melindungi kebebasan navigasi.
Kementrian luar negeri Cina menuduh kapal perang USS Lassen secara ilegal memasuki kawasan perairan di kawasan terumbu karang Subi: “Manuver ini merupakan provokasi secara sengaja”.
Kemenlu di Beijing juga langsung memanggil duta besar AS untuk Cina Max Baucus guna meminta penjelasan.
Akibat insiden patroli kapal perang AS di kawasan kepulauan Spratly itu, hubungan antara Cina dengan AS kini jadi tegang.
Cina mengklaim, kapal perangnya terus mengikuti USS Lassen dan memberi peringatan karena dinilai melanggar wilayah teritorialnya.
Sejumlah petinggi militer di Beijing mengatakan, mereka kini menyiapkan armada kapal perangnya untuk menghadapi terulangnya provokasi semacam itu.
Ini merupakan reaksi atas pernyataan pejabat tinggi AS yang mengatakan: ”Patroli semacam itu akan menjadi rutinitas”.
Beijing balas menggertak, dengan menyatakan tidak takut terlibat konflik militer dengan Amerika.
Demikian dilaporkan oleh harian Inggris The Guardian yang mengutip media-media Cina.
China 'not frightened to fight a war' in South China Sea after US move https://t.co/5hPO0B0L4e
— China Babble (@chinababble) October 28, 2015
Harian-harian Cina yang dekat dengan partai komunis bahkan menulis kritik tajam yang menyebutkan: Amerika Serikat harus belajar dari kekacauan yang diciptakannya di Afghanistan dan Irak.
Ini membuktikan pamer kekuatan AS tidak pernah menciptakan stabilitas.
Showdown in the South China Sea: How did we get here?: https://t.co/qtoSz4IUKq
— WORLDDAILYTIMES (@WORLDDAILYTIMES) October 28, 2015
Gugus kepulauan Spratly sejak beberapa dekade menjadi kawasan sengketa yang diperebutkan oleh Cina, Malaysia, Vietnam, Filipina, Brunei, dan Taiwan.
Enam negara ini mengklaim bahwa sebagian atau seluruh kepulauan itu adalah hak teritorial mereka.
Cina paling agresif mengklaim kepulauan Spratly, dan pada tahun 2014 membangun dua pulau buatan untuk mengukuhkan klaimnya. Salah satu pulau buatan bahkan dijadikan pangkalan militer.

:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/gertak-perang_20151029_133748.jpg)