Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Mayat Ditemukan di Jl Dg Patompo

Karmila, Si Jago Masak yang Jadi Pemurung

“Bisamu itu bunuhki kodong keponakanku, masih kecilki.

Editor: Ilham Mangenre
fb
Karmila semasa hidupnya 

MAKASSAR, TRIBUN-TIMUR.COM- Sudah lima tahun Karmila tinggal di Panti Asuhan Raodah, Jl Mamoa, Makassar. Dia lahir di Dusun Bulo-bulo, Desa Pencong, Kecamatan Biringbulu, Gowa, 12 Juli 1998.

Baca juga: Masalah Janin, Ini Kronologi Wahyu Bunuh Pacarnya, Karmila

Setelah kedua orangtuanya meninggal dunia, Karmila diurus di panti.

Dia menjadi anak panti sejak berumur 12 tahun, 2010. Dia tinggal di panti bersama adiknya, Mirsa Jaya.

Pengurus panti kemudian menyekolahkan Karmila di MTs Rabiatul Adawiyah Tabaria, Makassar.

Setelah itu, lanjut di SMK I Gunungsari, jurusan teknik komputer dan jaringan (TKJ).

“Kami sangat kaget mendengar Karmila meninggal. Kami tahu setelah media memberitakan ada mayat berkalung ‘Karmila’.

Adiknya, Mirsa Jaya pun tahu kalau itu kakaknya,” kata pengurus panti, Alauddin, Selasa (29/9/2015).

Baca juga: Saya Benar-benar Hamil, Wahyu: Kenapa Bisa?

Keluarga Karmila berdatangan ke Rumah Sakit Bhayangkara setelah identitas mayat terbongkar.

Mereka histeris dan memaki-maki Wahyu yang juga sempat dirawat di RS Bhayangkara setelah “dihadiahi” tiga timah panas oleh polisi.

“Bisamu itu bunuhki kodong keponakanku, masih kecilki. Saya tidak mau tahu, ini pelaku juga harus dihukum mati,” teriak tante Karmilah, Sutiah (55).

Karmila memiliki empat saudara. Kakak tertuanya bekerja di Makassar. Sang kakaklah yang menitipkan Mila, sapaan Karmila, di Panti Asuhan Raodah.

Panti Asuhan Raodah memiliki empat kamar untuk santri perempuan. Santri laki-laki hanya tidur di ruang tamu lantai dua.

Mila sekamar dengan tiga santri lainnya. Salah satunya, Nurlia.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved