Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

CITIZEN REPORTER

Kemenkes-Unhas Menggali Potensi Tanaman Obat di Luwu Utara

Laporan: Aminullah Dosen Farmasi UH dan Ketua Peneliti Ristoja 2015 Etnis Seko

Penulis: CitizenReporter | Editor: Ina Maharani
CITIZEN REPORTER
Aminullah Peneliti Ristoja 2015 

Laporan: Aminullah Dosen Farmasi UH dan Ketua Peneliti Ristoja 2015 Etnis Seko

TRIBUN-TIMUR.COM  Tim peneliti RISTOJA (Riset Tumbuhan Obat dan Jamu) 2015 merupakan program dari badan litbang Kementerian Kesehatan bekerjasama dengan Unhas akan menggali, menjaga dan melestarikan obat tradisional dari berbagai etnis di Indonesia khususnya di Kabupaten Maros, Sinjai, Enrekang, Luwu Utara dan Luwu Timur. Tim Luwu Utara akan menggali potensi tanaman obat di Kecamatan Seko selama 3 pekan, 29 Agustus – 18 September 2015. Selanjutnya, penyusunan laporan di hotel Aerotel Smile, 19-21 September 2015 dan diakhiri dengan pengiriman laporan dan sampel tanaman yang diambil dari lokasi ke Tawangmangu pada Senin, 28 September 2015.

Secara geografis, Seko terletak di dataran tinggi sekitar 1100-1500 m dpl perbatasan antara Propinsi Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat dan Sulawesi Tengah. Terbagi menjadi 3 bagian yaitu Seko Padang, Seko Tengah dan Seko Lemo dengan luas wilayah sekitar 2.109,19 km persegi dengan jumlah penduduk sekitar 14.000 jiwa tersebar pada 12 desa. Seko merupakan kecamatan terjauh dari ibukota Luwu Utara, yaitu sekitar 126 km (Jarak tempuhnya seperti dari Makassar ke Bantaeng atau dari Makassar ke Pare-Pare).

Untuk menuju lokasi, tim berencana menggunakan transportasi ojek melalui wilayah Sabbang. Sayangnya, negosiasi harga tidak berhasil karena banyaknya barang bawaan yang membutuhkan biaya transportasi yang sangat mahal. Akhirnya, tim memutuskan menggunakan transportasi udara dari bandara Andi Jemma, Masamba. Perjalanan melalui udara hanya memerlukan waktu tempuh 16 menit. Sangat kontras dengan waktu tempuh perjalanan melalui jalur darat. Bisa dibayangkan, dengan transportasi ojek dari Sabbang, lama tempuh perjalanan bisa menghabiskan waktu sekitar 5-6 jam (musim kemarau) dan bahkan perlu menginap dalam perjalanan (musim hujan), tentu saja dengan medan yang sangat ‘menantang’ hingga tiba di Kecamatan Seko. Transportasi darat ke Kecamatan Seko memegang ‘rekor nasional’ sebagai ojek termahal di Indonesia.

Setibanya di bandara Kecamatan Seko, tim menuju ke rumah kepala desa untuk melapor dan berdiskusi dengan Kepala Desa Padang Balua, Ruth Taely. Tim memperoleh banyak informasi mengenai kondisi demografis dan geografis Kecamatan Seko. Tim sangat takjub dengan kesederhanaan yang ditunjukkan oleh kepala desa yang ternyata pemikirannya sangat global. “Tahun 2014 kemarin, Desa Padang Balua juara II lomba Desa tingkat nasional” ujar aktifis Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) ini.

Selanjutnya, tim melapor ke pihak Kecamatan Seko dan diterima langsung oleh Camat Seko, Bapak Tandi Bulan, SH. Bapak camat menguraikan historis Seko dan menyampaikan berbagai terobosan yang menarik dan unik pada masyarakatnya. “Seko itu artinya Sahabat. Masyarakat Seko itu sangat ramah dalam menerima tamu. Di daerah ini, yang menjadi pegangan masyarakat disebut ‘tiga tungku’ artinya dalam proses pengambilan keputusan, ketiga unsur ini meliputi agama, adat dan pemerintah harus lengkap dan duduk bersama” ujar mantan aktivis Walhi dan Kontras ini. Menarik untuk dikaji lebih lanjut, berbagai terobosan di Kecamatan Seko yang menjadi andalan masyarakat dan patut dicontoh daerah lainnya dalam meningkatkan taraf perekonomiannya seperti arisan jamban; ‘bossona’ range ternak merupakan kandang seluas 4x6 km setiap desa untuk memelihara kerbau/sapi agar tidak berkeliaran; penghasil kopi, coklat dan madu serta penghasil beras bebas pupuk dan pestisida, yaitu beras Tarone.

Keramahan penduduk di Desa Padang Balua memudahkan tim mendapatkan basecamp penelitian. Tim RISTOJA Seko terdiri dari 2 peneliti dari Kementrian Kesehatan meliputi Harto Widodo (selaku kordinator Teknis Wilayah Sulawesi Selatan) dan Kristoforus Ivan beserta 5 dosen peneliti dari Unhas yaitu Aminullah selaku ketua tim, Muh. Raihan dan Jabal Rahmat (bidang Kesehatan); Nurlin Muhammad (bidang Antropologi); dan Dody Priosambodo (bidang Botani).

Pertama, tim akan menemui beberapa pengobat tradisional (battra) yang dipanggil ‘sando’ di Dusun Bana, Desa Hono (2-3/9). Sando merupakan etnis asli di dusun Bana, yang memiliki kemampuan mengobati pasien atau warganya yang sakit dengan menggunakan ramuan dari tanaman secara turun-temurun. Sando yang kami temui yaitu Bapak Yohanis, Bapak Semuel dan Ibu Naomi. Lokasi dusun Bana sendiri berada sekitar 12 km dari ibukota kecamatan Seko, Padang Balua. Kondisi medan yang menantang membuat tim memilih transportasi ojek. Tim menemui beberapa battra di Dusun Bana didamping langsung oleh Sekretaris Desa Hono, Bapak Sudur. Setelah berdiskusi menyampaikan maksud dan tujuan penelitian, maka pihak Battra bersedia diwawancarai untuk memberikan informasi mengenai berbagai ramuan yang digunakan selama ini untuk mengobati warganya. Pada hari berikutnya, tim peneliti bersama dengan battra turun langsung ke hutan mencari dan mengumpulkan tanaman yang berkhasiat obat sesuai dengan ramuan yang disampaikan sebelumnya. Menarik sekali, berbagai ramuan yang menjadi andalan Suku Bana dalam mengobati penyakit tertentu secara turun temurun dan terbukti memberikan khasiat yang mujarab berhasil kami kumpulkan, yaitu ramuan untuk mengobati luka terbuka karena terkena benda tajam dan ramuan untuk ibu-ibu pra dan pasca melahirkan.

Selanjutnya, tim melanjutkan penelitian dengan menemui beberapa Sando di dusun Matannona, Desa Padang Raya (6-12/9). Didampingi oleh Kepala Dusun Matannona, Bapak Yamin, tim berhasil menemui dua orang sando dengan spesialisasi ilmu pengobatan masing-masing dengan menggunakan ramuan tanaman yaitu Bapak Talotong Lemo dan Ibu Sumiati. Khusus di desanya, Bapak Talotong Lemo digelari ahli tulang atau bengkel tulang. Betapa tidak, pasien beliau yang bermasalah dalam hal tulang misal patah tulang karena kecelakaan, keseleo, dsb tidak hanya dari desanya saja, beberapa pasien dari luar daerah seperti dari kota Masamba juga datang berobat ke beliau. Menariknya, dia tetap menggunakan ramuan dari tanaman yang disiapkan secara khusus. Pada kesempatan yang sama, beliau sedang mengobati pasien yang patah tangan dari kota Masamba. Letak patahan di tangannya berada pada dua titik yang berbeda. Ramuannya sungguh mujarab, hanya dalam tempo sekitar 8 hari, sang pasien sudah mampu menggerakkan tangannya. Saya pun sempat merasakan sentuhan tangannya diurut dua kali. Berbeda, dengan ibu Sumiati yang memiliki keahlian menggunakan ramuan khusus dalam membantu ibu-ibu pra dan pasca melahirkan serta perawatan bayi dan anak. Umumnya, tim hanya melakukan wawancara pada hari pertama ketemu dengan sandonya dan nanti pada hari berikutnya, tim bersama dengan sandonya akan memasuki hutan untuk mengambil langsung tanaman-tanaman yang digunakan dalam ramuannya.

Selanjutnya, tim melanjutkan penelitian dengan menemui beberapa sando di Desa Padang Balua (12-16/9). Tak kalah hebatnya, di desa ini dengan didampingi oleh Kepala Desanya, Ruth Taely, kami berhasil bertemu dengan dua orang sando dengan spesialisasi pengobatan. Bapak YR. Tibian merupakan tokoh masyarakat setempat dan dengan keahliannya dengan penuh keikhlasan membantu mengobati pasiennya. Beliau memiliki spesialisasi ilmu dalam membantu ibu-ibu dan bapak-bapak yang belum memiliki keturunan. ‘’Dengan pertolongan yang Maha Kuasa, selagi sperma pria tidak seencer air dan wanitanya pun pernah haid, maka saya bisa membantunya dalam memperoleh keturunan” ujar bapak YR. Tibian yang pernah mendapatkan penghargaan dari presiden SBY ini. Hebatnya beliau, pasiennya tidak hanya dari etnis setempat, dari berbagai kabupaten/propinsi pun ada bahkan ada pasiennya juga dari luar negeri. Tim sangat takjub karena beliau tidak menggunakan kepakaran ilmunya untuk komersialisasi, tapi hanya semata-mata dengan penuh keikhlasan untuk membantu umat manusia. Senada dengan bapak YR. Tibian, ibu Sara Tarame juga dikenal dikampungnya dalam membantu ibu-ibu pra dan pasca melahirkan serta perawatan pada bayi dan anak. Sedikit berbeda diusia senjanya, ibu ini masih tampak kencang kulitnya. Usut punya usut, kami berhasil mendapatkan ramuan tambahan kosmetika untuk mempercantik kulit.

Tim RISTOJA sangat senang selama berada di desa Padang Balua. Penduduknya sangat ramah, hingga kami tak pernah menyangka, saat akan meninggalkan lokasi, kami mendapatkan ole-ole dari warga setempat berupa madu, kopi dan beras Tarone hampir sekarung. Potensi pengobatan di etnis Seko sangat menjanjikan khususnya dari ramuan tanaman untuk dikembangkan oleh Kementrian Kesehatan. Setidaknya, tim berhasil mengumpulkan sekitar 120 ramuan dari 133 tanaman dari 7 orang battra. “Sesuai naskah penjelasan dari Kementrian Kesehatan RI bahwa dampak komersial RISTOJA 2015 akan dikembalikan ke etnis pemilik sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HKI) sesuai ketentuan yang berlaku” ujar Nurlin selaku anggota tim peneliti. Semoga.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved