Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Faisal Oddang Angkat Lokalitas Sulsel Lewat Tulisan

Meraih penghargaan sebagai karya cerpen terbaik di Harian Kompas tahun 2015

Tayang:
Penulis: Anita Kusuma Wardana | Editor: Suryana Anas
TRIBUN TIMUR/ANITA K WARDANA
Faisal Oddang (baju biru) saat berfoto bersama Rektor Unhas Prof Dwia Aries Tina, Dekan Fakultas Sastra, dan Ketua Jurusan Sastra Indonesia Unhas. 

Laporan Wartawan Tribun Timur, Anita Wardana

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR -Nama Faisal Oddang semakin diperhitungkan di dunia kesusastraan setelah karyanya berjudul "Di Tubuh Tarra, dalam Rahim Pohon" meraih penghargaan sebagai karya cerpen terbaik di Harian Kompas tahun 2015, Kamis (11/6/2015) lalu.

Cerpen yang terbit pada 4 Mei 2014 tersebut mampu mengalahkan karya-karya 24 sastrawan ternama Indonesia, sebut saja Sapardi Djoko Damono, Budi Darma, Putu Wijaya, Radhar Panca Dahana, Seno Gumira Ajidarma, Agus Noor maupun Triyanto Triwikromo.

Cerpennya tersebut merupakan cerpen yang pertama kali diterbitkan oleh Kompas, meskipun ia telah mengirimkan cerpennya ke Kompas sejak tahun 2012.

"Dalam menulis saya memperhatikan gaya bertutur yang baik dalam cerita yang saya tulis, walaupun ide cerita dan pilihan diksi adalah dua hal yang juga menjadi kekutaan dalam sebuah tulisan," kata Faisal kepada Tribun, Selasa (16/6/2015).

Menurutnya, jika penulis mampu bercerita dengan baik dalam tulisannya, ide yang sederhana pun akan menarik minat pembaca.

Faisal yang masih tercatat sebagai Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Hasanuddin (Unhas) ini juga mengaku, setiap tulisan yang ia buat senantiasa ingin menampilkan kearifan lokal di Sulawesi Selatan yang belum diketahui masyarakat melalui cerpen yang ia buat.

Seperti dalam tulisan "Di Tubuh Tarra, dalam Rahim Pohon" mengeksplore lokalitas masyarakat di Toraja dan berkisah tentang sebuah batang pohon di Kampung Kambira yang menjadi pemakaman bagi bayi-bayi yang telah meninggal.

Wajah Sulawesi Selatan lainnya, khususnya terkait masyarakat Bissu juga ditampilkan, pria yang mengidolakan Arundhaty Roi dari India ini dalam cerpennya berjudul “Jangan Tanyakan tentang Mereka yang Memotong Lidahku”. Karyanya yang satu ini pun telah meraih penghargaan Asean Young Writer Award 2014.

"Saya juga tertarik untuk menggali potensi dari Suku Kajang di Bulukumba atau kisah Tomanurung di Sinjai dalam tulisan saya. Tapi, datanya belum cukup,"katanya.

Faisal juga mengatakan ia merasa mantap menggeluti dunia kepenulisan, setelah ia berhasil terpilih menjadi salah satu pelajar SMA yang mendapat beasiswa menulis "Sahabat dari Jauh" pada Makassar International Writers Festival (MIWF) tahun 2012 yang digagas Lily Yulianti Farid dan Riri Riza.

Bahkan, Faisal berhasil menjadi salah satu penulis yang diundang secara khusus setelah melalui proses seleksi pada penyelenggaraan MIWF 2015. Sebelumnya, ia juga pernah menjadi cerpenis terpilih dalam event Ubud Writers and Readers Festival tahun 2014.

"Hobi menulis saya berawal dari hobi saya membaca yang turut dipengaruhi oleh orangtua yang juga hobi membaca. Semua buku saya baca, walaupun saya lebih suka buku-buku karya penulis luar. Tapi, saya rasa semua penulis yang karyanya pernah saya baca turut memengaruhi gaya menulisku saat ini," ujar Faisal yang juga aktif di Komunitas Lego-Lego.

Selain Arundhaty Roi, Wakil Ketua Ikatan Mahasiswa Sastra Indonesia, Keluarga Mahasiswa Fakultas Sastra Unhas ini juga mengidolakan penulis Iwan Simatupang, YB. Mangunwijaya dan Eka Kurniawan.

"Sebenarnya saya juga hobi menulis puisi. Bahkan, puisi yang saya tulis lebih banyak dari cerpen yang saya buat. Tapi, saya lebih dikenal sebagai cerpenis,"ujarnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved