Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

ASSIKALAIBINENG Kamasutra Versi Bugis

Kenapa Berzikir dan Atur Nafas Bersenggama

Kenapa ajaran Kamasutra Bugis ini mengajarkan lelaku syariat sebelum berhubungan badan?

Penulis: Thamzil Thahir | Editor: Edi Sumardi

TRIBUN-TIMUR.COM - Ajaran Kitab Persetubuhan Bugis atau yang kemudian oleh pembaca dan warga Makassar lebih dikenal dengan Kamasutra ala Bugis ini diawali dengan pengetahuan tentang mandi, berwudlu, shalat sunah dan tafakur dengan suami-istri.

Kenapa ajaran Kamasutra Bugis ini mengajarkan lelaku syariat sebelum berhubungan badan?

Menurut hemat peresensi, karena ajaran turun temurun Bugis ini, memang banyak mengadaptasi adab dn ahlak suami istri dalam Islam yang dilakoni oleh Ali RA dan istrinya, Fatimah.

Karena hubungan badaniah suami istri adalah sesuatu yang suci, makanya juga harus dimulai dalam keadaan suci, dan diakhiri pula dalam keadaan jiwa yg tenang dan suci (mandi junub).

Selain itu, ajaran ini juga mengisyaratkan kepada pasangan suami-istri bersama sebagai prasyarat nikah batin, sebelum akhirnya menanjak ke tahapan lelaku badaniah, seperti bercumbu, penetrasi dan segala yang harus dilakukan setelah berhubungan intim.

Dan karena, meski Assikalaibineng merupakan kitab yang berisi tentang ilmu-ilmu seksologi, tapi pendekatan yang digunakan adalah sisi tata kramanya, maka dalam aktvfitas badaniyah ini disarankan untuk dilakukan dengan cahaya yang tidak benderang dan dilakukan dalam satu sarung, atau kain tertutup, atau kelambu.

Seperti juga dalam Kamasutra, dalam Assikalaibineng ini pun mengenal istilah foreplay atau pemanasan sebelum penetrasi.

Dalam Assikalaibineng untuk foreplay mengenal dua istilah yakni makkarawa (meraba) dan manyyonyo (mencium).

Dua kegiatan yang dilakukan oleh tangan dan mulut dalam foreplay ini adalah dengan mengeksplorasi zona-zona erotis yang terdapat dalam tubuh wanita.

Buku karangan Muhlis Hadrawi yang didedikasikan untuk meraih program masternya di PPs UI Jakarta ini, merinci ada 12 titik rangsangan pada wanita.

Ke-12 zona erotis yang diantaranya adalah meraba lengan sebagai titik rabaan pertama sebelum akhirnya meningkat pada titik rabaan berikutnya seperti pale lima (telapak tangan), sadang (dagu), edda’ (pangkal leher), dan cekkong (tengkuk) adalah sejumlah titik yang dalam buku ini direkomendasikan di-karawa dan dinyoyyo di tahap awal foreplay.

Setelah bagian badan tubuh, mulailah masuk di sekitar muka.

Titik rawan istri di bagian ini disebutkan; buwung (ubun-ubun), dacculing (daun telinga), lawa enning (perantara kening dia atas hidung), lalu inge (bagian depan hidung).

Di titik ini juga disebutkan, tahapan di bagian badan sebelum penetrasi langsung adalah pangolo (buah dada) dan posi (pusar).

Dalam foreplay berupa makkarawa dan manyonyyo ini, buku menyarankan tetap tenang dan mengatur irama naffaseng (nafas).

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved