Cinta dan Benci Beda Tipis, Ini Penjelasannya

Oxytocin, satu hormon yang berperan mengendalikan dua perasaan yang berlawanan ini.

Cinta dan Benci Beda Tipis, Ini Penjelasannya
net
ilustrasi: manusia yang benci tapi cinta 

TRIBUN-TIMUR.COM- Masih ingat hadist Nabi Muhammad SAW tentang cinta dan benci? ditinjau dari segi medis, hadist ini begitu baik jika dipahami dan diamalkan.

Hadist riwayat (HR) Turmidzi:"Cintailah orang yang engkau cintai itu sekedarnya saja, sebab barangkali suatu hari dia akan menjadi orang yang engkau benci, dan bencilah orang yang tidak engkau sukai itu sekedarnya saja sebab barangkali suatu hari dia akan menjadi orang yang kamu cintai."

Temuan dokter, cinta dan benci tipis bedanya. Ada latar belakang medis dan ilmiah yang melatarbelakangi itu semua.

Hasil hasil riset seperti dilaporkan dr Devina Nova Estikaratri, anggota redaksi medis KlikDokter.com, ada namanya hormon Oxytocin, satu hormon yang berperan mengendalikan dua perasaan yang berlawanan ini.

Hormon ajaib yang banyak diproduksi pada saat berhubungan seksual, melahirkan dan menyusui ini pada awalnya diperkaya hanya dapat meningkatkan perasaan positif saja seperti hubungan cinta antar pasangan atau keluarga.

Namun beberapa penelitian membuktikan bahwa hormon yang sama juga berperan saat kita iri, dengki atau cemburu.

Dewasa ini, bentuk sintetik dari hormon oxytocin yang diberikan secara inhalasi terbukti dapat meningkatkan rasa percaya, kontak mata, tenggang rasa ataupun penghargaan terhadap orang lain.

Lucunya berbagai perasaan negatif sebagaimana tergambar dalam film 'Mean Girls', yang menceritakan tentang kisah sekelompok gadis SMU yang saling membenci, secara ilmiah terbukti juga dipengaruhi oleh hormon yang sama.

Benci Apa Sebenarnya Cinta?

Bersikap bijak dan kendalikanlah si hormon ajaib tersebut di dalam tubuh Anda. Telaah kembali sebelum Anda memutuskan untuk membenci seseorang tanpa sebab, karena ternyata rasa benci yang timbul itu bisa saja dipicu oleh rasa kagum, dan kemudian berujung pada iri hati atau kemarahan.

Aktivitas otak di kala marah dan selama merasakan emosi positif menunjukkan aktivitas yang sama.

Coba eliminasi rasa sombong dan angkuh ketika kita menilai seseorang, jangan pernah merasa mendapatkan kesenangan dari kemalangan orang lain. Oxytocin kita, kita pun yang mengendalikan. (dr Devina Nova Estikaratri/KlikDokter.com)

Editor: Ilham Mangenre
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved