Pengeritik Dipenjara
Pengeritik Dipenjara, Cendrawasih 430 Anggap Ichsan YL Coreng Demokrasi
"Buktinya kasus itu kini sudah sampai di meja persidangan (pengadilan). Dan kami salut dengan Tribun Timur yang bisa mendapatkan berita ini," ungkap S
Penulis: Ilham Mangenre | Editor: Ilham Mangenre
Laporan Wartawan Tribun Timur, Ilham Mangenre
MAKASSAR, TRIBUN-TIMUR.COM-Ulah Bupati Gowa Ichsan Yasin Limpo yang memenjarakan pengeritik tak hanya mengundang reaksi Komisi Nasional dan Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) melainkan juga anggota forum pembaca Tribun, Cendrawasih 430.
Farum yang dihuni sejumlah aktivis senior, peniliti, akademisi, dan berbagai kalangan ini pun menggelar diskusi di Kantin Tribun Timur, Jl Cendrawasih 430, Makassar, Jumat (19/12/2014) sore.
Mereka mengeritisi ulah Ichsan YL yang tega memenjarakan Fadly, PNS Pariwisata Gowa, lantaran Fadly mengeritik sang bupati di grup LINE. Baca http://makassar.tribunnews.com/2014/12/19/bela-fadly-komnas-ham-sebut-bupati-gowa-dan-hakim-tidak-adil
Anggota forum Cendrawasih 430, Ostaf Mustafa, mengaku miris dan menyayangkan sampai kasus itu terjadi. Sawaluddin Arief juga demikian.Menurut mereka, kasus tersebut terkesan ditutup- tutupi oleh penegak hukum.
"Buktinya kasus itu kini sudah sampai di meja persidangan (pengadilan). Dan kami salut dengan Tribun Timur yang bisa mendapatkan berita ini," ungkap Syawal.
Direktur Eksekutif Duta Politika Indonesia (DPI) Dedi Alamsya Mannaroi, menyambung perkataan Syawal.
"Semoga ke depan tidak ada lagi kasus serupa. Pemimpin harus bijak menerima kritikan, kritikan itu hak warga negara," kata Dedi.
Senada Dedi, Ostaf Al Mustafa, yang juga Koordinator Data, Komunikasi dan Pelatihan Komite Perlindungan Jurnalis dan Kebebasan Jurnalis (Korankiri) Sulsel, ini, mengatakan, ulah Ichsan YL memenjarakan pengkritik adalah mencoreng demokrasi.
Di samping itu, "UU ITE adalah pengesahan tirani elit birokrat. Jadi tak pantas PNS yang berekspresi ditahan karena itu hanya diskusi tertutup penahanan PNS mencoreng demokrasi dan hak bicara," ungkap Ostaf.
Kegiatan diskusi forum ini juga dihadiri Korlip Tribun Timur Jumadi Mappanganro, Redaktur Mansur Mansur Amrullah, dan sejumlah akademisi Universitas Muslim Indonesia (UMI). (*)