Bentrok UMI
Rektor UMI: Mestinya Pengunjuk Rasa Dibawa ke TMP
Dengan strategi itu, dapat diketahui mana pengunjuk rasa yang memang mahasiswa dan mana penyusup.
Penulis: Ansar | Editor: Imam Wahyudi
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Rektor Universitas Muslim Indonesia (UMI), Prof Masrurah Mokhtar, menyayangkan tindakan polisi karena menghalau dan memukul mundur pengunjuk rasa dari arah Taman Makam Pahlawan (TMP) sehingga massa berlarian masuk ke dalam kampus UMI.
Mestinya, kata dia, polisi mengambil posisi dari arah sebaliknya atau dari flyover dan memukul mundur massa ke TMP. Dengan strategi itu, dapat diketahui mana pengunjuk rasa yang memang mahasiswa dan mana penyusup.
"Itu kami sesalkan, kenapa polisi pukul mundur massa ke dalam kampus. Seharusnya dia arahkan ke Taman Makam Pahlawan. Supaya kelihatan mana warga, mana mahasiswa. Polisi harus buat aturan main, jika ada yang tutup jalan, jika ada yang menahan mobil, polisi harus berusaha. Kita minta polisi tangani kasus ini secara serius," ujar Masrurah, saat menggelar jumpa pers di lantai 9 Menara UMI, Jumat (28/11/14) sore.
Prof Masrurah juga menyesalkan tindakan polisi yang menembakkan gas air mata dan menciderai demonstran. Seharusnya, katanya, polisi mencari solusi lain karena hal itu merupakan tanggung jawabnya.
“Polisi yang berkewajiban menertibkan pendemo. Jika pendemo menutup jalan atau meresahkan pengguna jalan, seharusnya polisi membubarkannya dengan menggunakan cara lain yang tidak disertai kekerasan. Polisi mengalami kesalahan prosedur dalam menangani bentrokan di UMI,” tambahnya.
Jumpa pers Prof Masrurah ini, terkait peristiwa bentrok antara polisi dan mahasiswa UMI yang terjadi Kamis (27/11/14) sore.