Multi Niaga Group Rambah Bisnis Transportasi
50 unit taksi yang dioperasikan ini merupakan tahap awal dari 100 unit taksi yang izinnya telah dikantongi.
Penulis: Hasriyani Latif | Editor: Suryana Anas
MAKASSAR, TRIBUN-TIMUR.COM - Multi Niaga Group (MNG) kembali mengembangkan sayap dengan merambah bisnis transportasi. Melalui PT Multi Niaga Transporindo, pihak MNG mengoperasikan sebanyak 50 unit taksi.
Presiden Direktur Multi Niaga Group, Mubyl Handaling mengatakan, 50 unit taksi yang dioperasikan ini merupakan tahap awal dari 100 unit taksi yang izinnya telah dikantongi.
"Dalam waktu dekat, akhir tahun sisanya (50 unit) akan kami operasikan lagi. Adapun merek kendaraan yang dipakai yakni Toyota dan Proton," katanya di sela peresmian Taksi Transporindo di Ruko Bukit Khatulistiwa 2 No B/3, Jl Gowa Ria Sudiang Makassar, Selasa (22/10/2013).
Menurut Mubyl, ketertarikan pihaknya untuk terjun di bisnis jasa transportasi tak lain karena pertumbuhan ekonomi Kota Makassar yang sangat bagus. Apalagi kebutuhan masyarakat akan taksi yang masih cukup tinggi.
Adapun jangkauan rutenya meliputi Makassar, Maros, Gowa, dan Takalar. Pemesanan juga bisa dilakukan di nomor 887766. Terkait fasilitas yang ditawarkan, pada umumnya sama.
"Yang pasti, ada tiga hal yang kami tekankan pada driver. Yakni meliputi pengembalian barang-barang yang tertinggal, penumpang jangan dibawa putar-putar, serta kenyamanan penumpang. Selain AC, kami juga menyiapkan bacaan Majalah Inspirasi bagi penumpang," jelasnya.
Terkait pendapatan, pihaknya tidak mematok target raihan. Dia berharap untuk tahap awal minimal mampu membiayai "dirinya" sendiri, apalagi jika ditotal, invenstasi per unit taksi memakan biaya hingga Rp 140 jutaan.
Sementara itu, Ketua Asosiasi Perusahaan Taksi Sulsel, Burhanuddin menjelaskan,
jika melihat perkembangan Makassar, hotel, serta trafik kunjungan bandara, taksi memang masih menjadi suatu kebutuhan masyarakat dalam transportasi.
Saat ini ada 12 operator taksi yang ada di makassar dengan izin operasi 2.100 unit taksi. Namun dari izin tersebut, hanya 1.100 unit yang beroperasi.
"Jika dilihat dari segi permintaan masyarakat, kuota belum terpenuhi, namun kenyataannya operator belum mampu mengoperasikan sesuai izin," katanya.
Adapun kendala yang dihadapi yakni harga unit yang masih jauh lebih tinggi, termasuk bunga bank, dibandingkan pendapatan yang diterima. Karenanya, operator kadang tidak melakukan peremajaan unit. (*)