Penetapan Gubernur Sulsel
Hindari Amuk Massa, Warga Makassar Takut Keluar Rumah
Penetapan perolehan suara pada pemilihan Gubernur Sulsel menimbulkan berbagai reaksi
Tayang:
Penulis: Rasni | Editor: Muh. Taufik
MAKASSAR,TRIBUN-TIMUR.COM-Penetapan perolehan suara pada pemilihan Gubernur
Sulsel menimbulkan berbagai reaksi. Ada yang senang dan euforia, namun
ada juga yang merasa was-was atau kuatir Makassar bergejolak.
Sejumlah masyarakat kota Makassar mengaku takut keluar dari rumah mengingat sejak Kamis (31/1/2013) siang terjadi aksi protes atas penetapan hasil pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Sulsel di beberapa titik ruas jalan di kota Makassar oleh kelompok tertentu.
"Saya tadinya mau berkeliling Makassar untuk cari hiburan tapi takut nanti ada kerusahan dan banyak yang anarkis," kata salah seorang warga di jalan Mappaoddang Makassar, Farisa, Kamis (31/1).
Senada dengan Farisa, Pandi, warga Jl Cendrawasih memilih berdiam diri di rumah hingga dua hari ke depan untuk menghindari kekacauan yang tidak menutup kemungkinan akan menerpa dirinya.
"Saya takut, makanya kalau tidak ada hal yang penting, lebih baik tinggal di ruimah saja. Daripada harus keluar dan menjadi korban salah sasaran karena biasanya begitu, mereka tidak melihat orang bersalah atau tidak, asal libas saja," kata Pandi. (*)
Sejumlah masyarakat kota Makassar mengaku takut keluar dari rumah mengingat sejak Kamis (31/1/2013) siang terjadi aksi protes atas penetapan hasil pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Sulsel di beberapa titik ruas jalan di kota Makassar oleh kelompok tertentu.
"Saya tadinya mau berkeliling Makassar untuk cari hiburan tapi takut nanti ada kerusahan dan banyak yang anarkis," kata salah seorang warga di jalan Mappaoddang Makassar, Farisa, Kamis (31/1).
Senada dengan Farisa, Pandi, warga Jl Cendrawasih memilih berdiam diri di rumah hingga dua hari ke depan untuk menghindari kekacauan yang tidak menutup kemungkinan akan menerpa dirinya.
"Saya takut, makanya kalau tidak ada hal yang penting, lebih baik tinggal di ruimah saja. Daripada harus keluar dan menjadi korban salah sasaran karena biasanya begitu, mereka tidak melihat orang bersalah atau tidak, asal libas saja," kata Pandi. (*)