Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Kisah Inspiratif

Kisah Inspiratif Andi Ilhamsyah Mattalatta

Ia memberanikan diri belajar ski melalui latihan ala militer.

Penulis: Edi Sumardi | Editor: Thamzil Thahir
Atlet Ski Didikan Tentara

PADA usia empat tahun sekitar tahun 1957, Andi Ilhamsyah Mattalatta mulai belajar ski air di depan Fort Rotterdam atau sekitar Pantai Losari. Usia tak menjadi penghalang baginya memulai dunia pada olahraga pemacu adrenalin ini.
Ia memberanikan diri belajar ski melalui latihan ala militer.

Ilham lahir di Makassar pada tahun 1953. Pengusaha pariwisata ini merupakan putra tokoh pejuang kemerdekaan sekaligus tokoh olahraga nasional almarhum Mayor Jenderal Purnawirawan Andi Mattalatta. Ayahnya juga perintis ski air di Sulsel dan digelari Bapak Ski Air Indonesia.

Pada Februari 1957, Mattalatta mendirikan Persatuan Olahraga Perahu Motor dan Ski Ait atau Popsa. Ia pun naik daun di kalangan pecinta ski air Tanah Air. Sebelumnya, Mattalatta mendidikan klub ski Ujungpandang, namun belum memiliki nama resmi. Didirikan pula induk organisasi olahraga air, Persatuan Ski Air dan Wakeboard Indonesia.

Melalui organisasi tersebut, Ilham turut naik daun dan mengantarnya mengikuti berbagai kejuaraan. Ia menjadi atlit slalom ski air Indonesia.

Ilham satu-satunya laki-laki dari enam bersaudara. Kendati saudara lainnya perempuan, namun tetap juga menjadi atlet ski. Alhasil didikan ala militer dari ayahnya membuahkan hasil. Ia dan saudarinya, termasuk Andi Sitti Meriem Nurul Kusumawardhani Mattalatta berulang kali mencatat prestasi pada kejuaraan ski tingkat nasional dan internasional.

Bakat ski air diturunkan ayah lima putra dan putri ini, termasuk kepada putranya, Andi Rahmat Mattalatta. Rahmat mulai terjun ke dunia ski saat usianya menginjak delapan tahun. Alhasil, ia menjadi atlit ski air Pekan Olahraga Nasional.

Menjadi atlet ski, kata Wakil Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia Sulsel tersebut, kunicnya adalah disiplin. Disiplin menurutnya hanya dapat diperoleh melalui pendidikan ala militer.

“Saya mulai disuruh latihan pukul 06.30. Tidak boleh telat, bagaimanapun kondisinya. Itu jadwal latihan pagi. Kalau sore, latihannya mulai pukul 15.00,” katanya. Jika telat, tentu akan mendapat teguran, bukan hukuman fisik.

Jadwal latihan berlaku ketika mulai menginjakkan khaki pada bangku sekolah dasar di SD Frater, Makassar. Latihan tetap tak boleh telat, masuk sekolah pun tak boleh telat. Begitu pula saat jadwal latihan sore hingga jelang petang.

“Kadang jam belajar di sekolah bertabrakan dengan jadwal latihan. Solusinya harus bolos. Walaupun saya bolos, prestasi akademik masih tetap baik,” kenangnya seraya tertawa saat berbincang dengan Tribun di pusat jajanan miliknya, Kampoeng Popsa, Jl Ujungpandang, Makassar, Rabu (7/11).

Bolos sekolah masih digeluti saat duduk di bangku SMA Katolik Cenderawasih, Makassar atau menginjak usia 17 tahun. Ketua Yayasan Olahraga Sulawesi Selatan itu sering bolos bersama teman SMA-nya sesama atlit ski gara-gara harus latihan. Pola pendidikan ski jauh lebih keras dibanding di sekolahnya.

Latihan tak boleh berhenti sebelum motor ski menghabiskan bahan bakar 20 liter. Jika berhenti sebelum bahan bakar habis, tentu berisiko. Standar latihan ini juga berlaku pada atlit ski lainnya.

Latihan tak hanya di laut, namun juga di darat atau diistilahkan latihan katering. Pada sesi latihan ini, atlit akan mendapatkan teori ski air.

“Karena didikan tentara, saya bisa menjurai South East Asia Waterski Championship dan Marcos Cup di Filipina,” ujarnya. Adik Ilham, Meriem dan Andi Farida Mattalatta juga berulang kali menjuarai kejuaraan ski Ujungpandang.

Selama belajar ski, pemilik saham mayoritas Hotel Singgasana Makassar ini berulang kali kecelakaan. Tantangan terbesar adalah menghadapi ombak besar. “Tulang saya pernah hampir bergeser karena terbanting setelah menghadapi ombak besar,” kata Ilham sekaligus mantan Ketua BPD Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Sulsel.

Namun, tantangan tersebut tak pernah menciutkan nyalinya untuk berlatih demi meraih gelar sang juara. Bahkan risiko terberat, meninggal kecelakaan harus siap dihadapi.

Menginjak usia 59 tahun, Ilham tetap tak ingin memisahkan dirinya dengan ski air. “Pokoknya sampai akhir hayat, saya baru berhenti dari ski,” tutur mantan CEO PSM Makassar tersebut. Dirinya boleh dipisahkan dengan olahraga atau bidang usaha lain, namun ski air tak boleh, kendati dalam kondisi apapun.

Pada bidang bahari, Ilham juga gemar menyelam dan menggeluti aktivitas sosial untuk penyelamatan ekosistem laut. Pada tahun ini, ia merintis lahirnya Forum Penyelamat Spermonde.(edi sumardi)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved