Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Diskusi Tentang Perempuan di Cafe Spirit Pinrang, Ini Ulasan 2 Pemateri

Diskusi Intensif (Diksi) yang diinisiasi KosaKata, CoratCoret, Sahabat Kita, dan Lapak Baca At-Ta'lim ini bertema 'Memperempuankan Perempuan'

Tayang:
Penulis: Hery Syahrullah | Editor: Suryana Anas
Panitia Diskusi
Sejumlah komunitas menggelar Diskusi Intensif (Diksi) ke-11 di Cafe Spirit, Jl Dr Wahidin Sudirohusodo, Kecamatan Watang Sawitto, Kabupaten Pinrang, Kamis (28/2/2019) malam. 

TRIBUNPINRANG.COM, WATANG SAWITTO - Sejumlah komunitas menggelar Diskusi Intensif (Diksi) ke-11 di Cafe Spirit, Jl Dr Wahidin Sudirohusodo, Kecamatan Watang Sawitto, Kabupaten Pinrang, Kamis (28/2/2019) malam.

Kegiatan Diskusi Intensif (Diksi) yang diinisiasi KosaKata, CoratCoret, Sahabat Kita, dan Lapak Baca At-Ta'lim ini mengangkat tema 'Memperempuankan Perempuan'.

Dalam diskusi itu, menghadirkan dua narasumber. Yakni Sulistiawati Rahman selaku Aktivis Korps HMI Wati dan Miftahul Jannah selaku Aktivis Kemanusiaan MRI-ACT.

Baca: Langkah-langkah Pendaftaran UTBK SBMPTN 2019, Ingat Siswa Hanya Bisa Ikut 2 Kali, Cek Jadwal di Sini

Baca: Sudah Tayang di Bioskop, 5 Fakta Film Dilan 1991, Iqbal Ramadhan Jalani Diet dan Cerita Ridwan Kamil

Baca: Cetak 6 Gol, Eero Markkanen Jawab Keraguan Suporter PSM Makassar! Siap Main di Piala Presiden 2019

Dalam ulasannya, Sulis mengemukakan, sejatinya tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan.

Keduanya sama-sama memiliki peran khalifah dalam menciptakan keberaturan di muka bumi.

"Oleh karenanya, perempuan juga seyogyanya turut andil dalam ranah tertentu untuk menjalankan peran tersebut," katanya dalam rilis yang diterima TribunPinrang.com, Jumat (1/3/2019)

Apalagi, ucap Sulis, perempuan juga kerap didengungkan sebagai imaanul bilad (tiangnya negara).

Jika hendak melihat kemajuan suatu bangsa, maka lihatlah perempuannya. Demikianlah keurgenan peran perempuan di muka bumi.

"Meski demikian, perempuan tetap harus pandai menempatkan dirinya. Kapan dia harus beperan sebagai anak, ibu, istri atau pun masyarakat," papar Sulis.

Sementara itu, Miftahul Jannah lebih menitikberatkan pembahasan dalam ranah bagaimana seharusnya perempuan bersikap.

Menurutnya, perempuan harus mampu membentengi dirinya dari beragam hal yang berpotensi menimbulkan kerusakan.

"Hal itu bisa dimulai dari berhenti membiasakan diri memberi ruang bagi orang lain untuk memandang negatif perempuan. Jalankanlah setiap peran sebagaimana mestinya," jelasnya.

Miftah menegaskan, tak melulu aktifitas perempuan harus ditopang oleh pria. Jika memang hal itu masih bisa dilakukan sendiri.

"Stigma yang mengatakan bahwa perempuan adalah makhluk lemah, harus segera dikubur dalam-dalam," ujarnya.

Sebab, lanjut Miftah, keduanya punya proporsi masing-masing dalam menjalankan tugas dan fungsinya sebagai manusia.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved