Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

24 Tahun Jaga dan Rawat Taman Benteng Rotterdam, Ali Amin Terancam Digusur

Selembar surat berkop Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Balai Pelestarian Cagar Budaya Sulawesi Selatan, mengusik keberadaan Ali Amin

Penulis: Muslimin Emba | Editor: Munawwarah Ahmad
muslimin emba
Diskusi sejumlah aktivis dan NGO terkait rencana penggusuran Ali Amin, penjaga dan perawat taman Benteng Rotterdam Makassar, Rabu (1322019) malam. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Selembar surat berkop Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Balai Pelestarian Cagar Budaya Sulawesi Selatan, mengusik keberadaan Ali Amin (51) beserta istri dan lima anaknya.

Surat bernomor register 0303/E22.1/TU/2019, yang diterima Selasa kemarin, meminta Ali Amin dan keluarga dalam kurung waktu 14 hari kedepan, segera mengosongkan lahan

Lahan yang 24 tahun ditinggali Ali Amin berusaha menyambung hidup dan menjaga serta merawat tanaman bunga dan buah ada di taman seluas 60X29 meter itu.

Keberadaan Ali Amin di sisi kiri depan bangunan tembok benteng Rotterdam bukan tampa sebab.

Ia menempati pojok kiri depan taman itu atas permintaan Gabungan Pengusaha Konstruksi (Gapensi) pada Tahun 1995.

Oleh surat tugas diterbitkan Badan Pimpinan Daerah Gapensi TK I Sulawesi Selatan tertanggal 15 April 1995, Ali Amin diminta untuk merawat dan menjaga Taman Patung Kuda Benteng yang merupakan Binaan Gapensi.

Selain itu, surat tugas yang ditandatangani Sekretaris Umum Gapensi Drs A M Mochtar pada saat itu, juga mengizinkan Ali Amin menempati taman lahan di taman itu dan membuka usaha warung (kedai kopi).

Hasil dari penjualan kedai kopi digunakan Ali Amin untuk menjaga dan merawat taman berlokasi di sisi kiri depan benteng.

"Awalnya saya dipekerjakan Andi Mochtar disini untuk perbaikan intalasi listrik sama airnya bersama pekerja lain. Saat semua selesai, pak Mochtar menawari semua pekerja yang ada untuk tinggal sambil menjaga dan merawat taman ini, tapi tidak ada yang mau. Akhirnya pak Mochtar menunjuk saya agar tinggal dan merawat taman ini sambil menunggu ada pekerja lain  yang minat. Sekian lama tidak kunjung ada yang minat, saya pun dikasih surat tugas untuk tinggal dan mendirikan warkop," cerita Ali Amin ditemui, Rabu (13/2/2019) malam.

Hasil penjualan kopi dan aneka makanan seperti pisang epek, digunakan Ali Amin untuk biaya perawatan taman dan menghidupi keluarganya.

Sedari pagi hingga malam, tenaga dan pikiran ayah lima orang anak itu dikerahkan untuk menjaga tanaman taman.

Dan aktivitas itu ia lakoni sejak masih lajang hingga akhirnya beristri dan dianugerahi lima orang anak.

"Sudah salat subuh saya sudah masuk di taman, bersih-bersih rumput liar, sambil cek-cek tanaman yang rusak atau mati untuk diganti, sampai jam 9 pagi. Malamnya saya lakukan penyiraman," ujarnya.

Biaya perawatan taman itu semuanya diperoleh dari hasil penjualan kopi sesuai yang diamanahkan Gapensi.

Mulai dari listrik, air, tanaman rusak, hingga rumput rusak, semua ditanggung Ali Amin dari hasil seruput kopi pengunjung.

Halaman
123
Sumber: Tribun Timur
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved