Cerita Kepala SLBN 1 Wajo, 32 Tahun Mengabdi Demi Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus

Selama 32 tahun dirinya mengabdikan diri untuk mengurus para anak berkebutuhan khusus, dirinya punya banyak pengalamana menarik.

Cerita Kepala SLBN 1 Wajo, 32 Tahun Mengabdi  Demi Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus
hardiansyah/tribunwajo.com
Kepala SLBN 1 Wajo, Dahnia D. 

Laporan wartawan TribunWajo.com, Hardiansyah Abdi Gunawan

TRIBUNWAJO.COM, WAJO - Menangani anak berkebutuhan khusus tentu memerlukan keahliah khusus pula. Itulah yang dilakukan oleh Dahnia D, tenaga pengajar di SLBN 1 Wajo.

Selama 32 tahun dirinya mengabdikan diri untuk mengurus para anak berkebutuhan khusus, dirinya punya banyak pengalamana menarik.

"Secara manusiawi, kadang jengkel memberikan pemahaman terhadap mereka. Secara kan mereka agak lambat merespon. Tapi kejengkelan itu sebatas disitu," cerita Dahnia D, saat ditemui Tribunwajo.com di ruangannya, Senin (03/12/2018) sore.

Dirinya yang sejak 2010 menjabat sebagai Kepala SLBN 1 Wajo tersebut juga pernah sempat hendak menutup asrama yang menampung sekitar 25 anak penyandang disabilitas.

"Kita kekurangan dana. Waktu itu Ibu Bhayangkari Polres datang anjangsana. Saya ceritakan. Beliau pulang cerita ke Pak Kapolres, alhamdulillah ada banyak bantuan yang mengalir sampai saat ini," katanya.

Semenjak anjangsana yang dilakukan Ibu Bhayangkara Polres Wajo ke SLBN 1 Wajo beberapa waktu lalu, berbagai bantuan mengalir. Ada juga dari perusahaan, ada yang dari individu.

Menurutnya, bantuan itu sangat penting, mengingat operasional serta tanggungan anak-anak di asrama cukup banyak.

"Kalau mengandalkan dana pemerintah dari Dana BOS yang 22,5 juta per tahun itu jauh mencukupi. Tapi bagaimana kita pintar-pintar mengelolanya. Sebulan saja butuh minimal 3 juta," kata Dahnia.

Sebanyak 74 siswa yang terdaftar di SLBN 1 Wajo, yang terdiri dari 52 siswa SD, 14 siswa SMP dan 8 siswa SMA. Sementara, tenaga pendidik yang tersedia tidaklah memadai, di mana, cuma ada 22 tenaga pendidik, termasuk Dahnia sendiri.

"Satu tantangan bagi saya pribadi, bahwa anak berkebutuhan itu kita harus bina dia. Saya secara pribadi ke anak itu merasa bahagia,"

Dahnia pun menceritakan, sebelum dirinya menjabat sebagai kepala sekolah, tingkat kesadaran masyarakat untuk menyekolahkan anak penyandang disabilitas sangatlah minim.

Sebab, masyarakat menganggap bahwa anak-anak penyandang disabilitas tidaklah penting untuk mengenyam pendidikan.

"Malah masyarakat ada yang mengira kami banyak dana. Katanya lebih baik dana itu diberikan ke mereka sebagai bantuan daripada dipakai sekolah," ceritanya.

Penulis: Hardiansyah Abdi Gunawan
Editor: Imam Wahyudi
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved