Kisah Filtra, Terancam Dikeluarkan dari UNM Setelah Demo Kebijakan Fakultas

Ia menduga, hal itu terjadi karena ia pernah berunjuk rasa di kampus memprotes kebijakan ketua Prodi Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi UNM

Kisah Filtra, Terancam Dikeluarkan dari UNM Setelah Demo Kebijakan Fakultas
Filtra (tengah) mahasiswa Fakultas Ekonomi Prodi Pendidikan Akuntansi Universitas Negeri Makassar (UNM) saat bertandang ke redaksi Tribun, Kamis (6/9) malam.

TRIBUN-TIMUR.COM - Mahasiswa Universitas negeri Makassar (UNM) yang terancam dikeluarkan dari kampus karena tidak mampu menyelesaikan kuliahnya selama tujuh tahun, Filtra Absri, angkat bicara. Ia membantah tudingan pihak kampus yang menyebutkan dirinya tidak aktif selama dua tahun.

Tudingan tidak aktif selama dua tahun diungkapkan oleh PR I UNM Prof Muharram. Ia mengutip pernyataan dari pembimbing akademik Filtra, Dra Siti Hajerah Hasyim Msi.

Saat bertandang ke redaksi Tribun, Kamis (6/9) malam, Filtra, mantan mahasiswa Fakultas Ekonomi UNM ini blak-blakan menceritakan kronologi sehingga ia terpaksa dikeluarkan dari kampus Orange tersebut.

“Saya menduga, saya memang dipaksa untuk keluar dari kampus. Saya tidak tahu pasti alasannya,” kata Filtra.

Ia menduga, hal itu terjadi karena ia pernah berunjuk rasa di kampus memprotes kebijakan ketua Prodi Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi UNM yang saat itu dijabat oleh Siti Hajerah.

“Untuk yang satu itu (demonstrasi) saya memang pernah melakukannya. Tapi saya juga sudah minta maaf. Dan waktu itu, beliau mengatakan, saya bisa sarjana di UNM asalkan mengikuti semua aturan yang berlaku,” tutur Filtra.

Ia mengatakan, tudingan bahwa ia tidak aktif selama dua tahun, 2016-2017, adalah tidak benar. Buktinya, ia tetap menyelesaikan kewajibannya membayar SPP selama dua tahun itu. Ia juga memperlihatkan buku Konsultasi Skripsi yang ditandatangani oleh pembimbingnya, Dra Siti Hajerah Hasyim, Msi.

Di buku itu, konsultasi proposal Filtra yang pertama berlangsung pada 20 September 2017. Sebenarnya saya sudah konsultasi sejak 2016. Namun tidak tercatat, karena buku konsultasi ini baru diterbitkan pada tahun 2017,” kata pemilik indeks prestasi komulatif (IPK) 3,58 ini.

Selanjutnya, Filtra mengaku rutin melakukan konsultasi ke pembimbingnya hingga 31 Juli. Puncaknya, pada 7 Agustus 2018, pembimbingnya meminta Filtra mengubah judul proposalnya. “Dari awal saya tidak setuju dengan judulmu,” demikian tertulis dalam buku konsultasi itu.

Mendapat jawaban ini, Filtra jadi gusar. Pasalnya, batas waktu ia drop out (DO) dari kampus itu, tersisa 13 hari, yakni 20 Agustus 2018. Namun ia tidak putus harapan.

Berbagai upaya dilakukan agar ia bisa tetap menyandang gelar sarjana. Termasuk menemui petinggi kampus, Dekan, PR I, hingga rektor. Namun, hasilnya tetap nihil. Pihak kampus bersikukuh mengeluarkan Filtra dari kampus.

“Masalahnya, Pak Rektor belum mendengarkan penjelasan dari saya. Beliau hanya mendengarkan apa yang dikatakan oleh pembimbing. Padahal, apa yang dikatakan pembimbing tidak semuanya benar,” kata Filtra.

Halaman
Penulis: Munawwarah Ahmad
Editor: Muh. Irham
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help