Tujuh Profesor Antar Korsahli Kasau Raih Gelar Doktor di UNM

Korsahli Kasau Marsda TNI Umar Sugeng Hariyono berhasil menyandang gelar Doktor

Tujuh Profesor Antar Korsahli Kasau Raih Gelar Doktor di UNM
HANDOVER
Korsahli Kasau Marsda TNI Umar Sugeng Hariyono berhasil menyandang gelar Doktor setelah mempertahankan disertasinya yang berjudul Strategi Pengembangan Alutsista TNI Angkatan Udara dalam Perspektif Ancaman Wilayah Udara Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

Laporan Wartawan Tribun Timur, Fahrizal Syam

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Korsahli Kasau Marsda TNI Umar Sugeng Hariyono berhasil menyandang gelar Doktor setelah mempertahankan disertasinya yang berjudul Strategi Pengembangan Alutsista TNI Angkatan Udara dalam Perspektif Ancaman Wilayah Udara Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Umar mempertahankan disertasinya pada ujian Promosi Doktor yang, dilaksanakan di Ballroom Teater Lantai 3 Menara Pinisi UNM Makassar, Rabu (4/9/2018).

Sidang promosi doktor ini diketuai Rektor Universitas Negeri Makassar Prof Husain Syam, Prof Hamsu Abdul Gani selaku Sekretaris, Prof Rifdan selaku Promotor, dan Prof Jasruddin selaku Ko Promotor,

Sementara bertindak sebagai Penguji Internal adalah Prof Haedar Akib, Prof Suradi Tahmir, dan Prof Anshari, serta Penguji Eksternal Dr Erwansyah Syarief dari Jakarta.

Umar Sugeng mengatakan bahwa Strategi pengembangan alutsista TNI Angkatan Udara dilakukan dengan penambahan alutsista udara yang canggih dengan berbagai jenisnya, pesawat tanpa awak, radar, meriam/PSU untuk menuju Ideal Essential Force, membentuk Skadron mobile yang bermarkas di pangkalan udara terdepan, serta pemberdayaan industri pertahanan nasional seperti PT Dirgantara, PT Pindad, dan PT LAN.

Lebih lanjut Umar Sugeng Hariyono mengatakan bahwa faktor determinan strategi pengembangan alutsista TNI Angkatan Udara yakni kondisi keuangan negara yang harus lebih baik.

"Hubungan harmoni antar lembaga pemerintah dan instansi terkait, serta kepentingan pertahanan negara serta doktrin kampanye militer. TNI Angkatan udara harus memiliki kemampuan deterrent power dan balance of power sehingga mampu menegakkan kedaulatan negara, menjaga keutuhan wilayah NKRI dan melindungi keselamatan bangsa dan negara Indonesia," ucapnya dalam rilis, Kamis (5/8/2018).

Menurut mantan Pangkoopsau II Ini, penempatan alutsista udara di pulau atau pangkalan terdepan harus menjadi prioritas sehingga Indonesia akan betul-betul dapat menguasai wilayah udara nasional, serta dapat menghadapi ancaman yang datangnya melalui wilayah udara.

"Hal ini sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Presiden pertama RI Ir Sokarno dalam postulat yang dilontarkan pada tahun 1955 dengan menyatakan kuasailah udara untuk melaksanakan kehendak nasional karena kekuatan nasional di udara adalah faktor yang menentukan dalam perang modern," kata dia.

"Pernyataan Ir Sukarno tersebut mengisyaratkan bahwa sesungguhnya Indonesia sadar bahwa penguasaan udara harus menjadi prioritas yang dalam semboyang TNI AU dikenal dengan sebutan Abhibuti Antarikshe (keunggulan di udara adalah tujuan kami)," sambungnya.

Di akhir paparannya, alumni AAU 1986 ini mengemukakan teori yang menjadi temuannya dengan istilah T3 Seven Elements for National Air Power atau tujuh elemen membangun kekuatan udara yang meliputi the vision of Indonesian air force, leaders Integrity, Validate the organization, Modernize the main tool of weapons, the professional soldier, reward and punishment, dn Budgeting improvement. (*)

Penulis: Fahrizal Syam
Editor: Anita Kusuma Wardana
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved