Elpiji 3 Kg Langka, Disperindag Ancam Putus Usaha Agen dan Pengusaha Nakal

masyarakat kesulitan mendapat pasokan LPG 3 kilogram (kg) di beberapa kabupaten/kota di Sulsel. Makassar salah satunya.

Elpiji 3 Kg Langka, Disperindag Ancam Putus Usaha Agen dan Pengusaha Nakal
HAMDAN
Sudah empat hari masyarakat Palopo mengalami kelangkaan gas elpiji 3 kilogram. 

Laporan Wartawan Tribun Timur, Muhammad Fadhly Ali

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Lepas Iduladha Rabu (22/8) lalu, selain tidak sesuai harga eceran terendah (HET) ditentukan pemerintah, masyarakat kesulitan mendapat pasokan LPG 3 kilogram (kg) di beberapa kabupaten/kota di Sulsel. Makassar salah satunya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Makassar, Andi Muhammad Yasir yang ditemui di sela inspeksi mendadak (sidak) di rumah makan dan tempat laundry, Rabu (29/8) menuturkan kabar ini sungguh kurang baik.

"Ini isu nasional. Wali Kota kaget dengan ini. Saya melakukan sidak pagi hari bersama Polisi dan TNI. Dua agen saya kunjungi, hasilnya sudah sesuai. Namun kita terus melakukan pengawasan, dan saya tidak segan menindak agen LPG yang nakal, kalau perlu kita cabut izinnya," kata Yasir.

Tidak hanya agen, pengusaha yang memanfaatkan gas LPG 3 kg untuk kegiatan usahanya pun akan ditindak sama.

"Para pelaku usaha mikro yang memiliki kekayaan bersih Rp 50 juta atau memiliki hasil penjualan tahunan Rp 300 juta, dan masyarakat yang mempunyai penghasilan lebih Rp 1,5 juta per bulan dan tidak memiliki surat keterangan tidak mampu dari kelurahan setempat, untuk tidak mengonsumsi LPG 3 kg," katanya.

Dua tempat usaha, Rumah Makan Mbak Daeng di Jl Sultan Alauddin dan Laundry Kurnia di Jl Tidung Mariolo terbukti menggunakan LPG 3 kg selama menjalankan usahanya.

"Tidak tanggung-tanggung, bisa sampai 20 tabung per hari mereka pakai. Lucunya, Mbak Daeng ini tidak tahu pemasoknya siapa, kalau Laundry Kurnia mereka hunting ke pengecer. Kami langsung arahkan untuk berhenti menggunakan LPG 3 kg. Bila dalam 2 minggu tidak digubris kami akan cabut izin usahanya," katanya.

Namun dari itu, baik agen dan pengusaha harus sadar. "Melihat kejadian ini, Disperindag yang jadi kambing hitam. Padahal, bila melihat pertumbuhan bukanya laundry dan restoran tidak sampai 0,1 persen. Makanya kita harus awasi di agen dan pangkalan," katanya.

Ia pun berencana akan melakukan rapat koordinasi dengan seluruh stageholder membahas permasalahan ini. "Kami akan undang dari Pertamina, Hiswana Migas, Dinsos, Polri, dan TNI membahas jalan keluarnya," katanya.

Beberapa hal yang menguat seperti, pendistribusian tertutup. "Jadi LPG 3 kg akan diberikan bagi mereka yang memiliki kartu indonesia harapan," katanya. (*)

Penulis: Muhammad Fadly Ali
Editor: Anita Kusuma Wardana
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved