Citizen Reporter

Mahasiswa Unhas Ciptakan Teknologi Pengolah Sampah Plastik Jadi BBM

Alat ini lebih ramah lingkungan karena tidak menghasilkan limbah buangan efektif dalam mengubah sampah plastik menjadi energi alternatif

Mahasiswa Unhas Ciptakan Teknologi Pengolah Sampah Plastik Jadi BBM
Citizen Reporter
TIM PKM-KC Universitas Hasanuddin yang terdiri dari Asrul (Ilmu Kelautan), Muhammad Akbar (Teknik Elektro) dan Syafriman Ali (Ilmu Kelautan) dibawah Bimbingan Dosen FIKP Unhas Ayahanda Dr. Muhammad Banda Selamat, ST,. MT membuat Inovasi teknologi yang akan menjadi Solusi permasalahan sampah plastik di Pulau 3 T (Terluar, Terdepan dan Tertinggal) 

Citizen Repoter, Syafriman (Angggota Tim)

MAKASSAR - Indonesia darurat sampah, yah kalimat ini sangat sesuai menggambarkan kondisi negara kita saat ini.

Indonesia mendapat prestasi luarbiasa sebagai penghasil sampah plastik terbesar ke-dua di dunia baik di daratan perkotaan, perairan, hingga pulau-pulau terluar.

Hal inilah yang mendasari TIM PKM-KC Universitas Hasanuddin yang terdiri dari Asrul (Ilmu Kelautan), Muhammad Akbar (Teknik Elektro) dan Syafriman Ali (Ilmu Kelautan) dibawah Bimbingan Dosen FIKP Unhas Ayahanda Dr. Muhammad Banda Selamat, ST,. MT membuat Inovasi teknologi yang akan menjadi Solusi permasalahan sampah plastik di Pulau 3 T (Terluar, Terdepan dan Tertinggal)

Sampah Plastik akan menjadi bencana jika dibiarkan terus menerus. Namun, jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda maka sampah bisa diubah menjadi berkah. Sampah plastik bisa diubah menjadi BBM karena pada dasarnya material yang digunakan untuk memproduksi plastik adalah BBM (Syafriman)

Inovasi yang dibuat pada alat ini adalah menambah komponen panel surya sebagai sumber energi listrik, menggunakan komponen pemanas listrik sehingga tidak menghasilkan Gas buangan dan lebih ramah lingkungan serta model alat yang lebih inovatif sehingga seluruh komponen alat berada dalam satu rangka dan memudahkan mobilisasi alat (Asrul ) ketua tim.

Alat ini akan diterapkan dikawasan pesisir dan pulau pulau kecil. Keunggulan alat ini lebih ramah lingkungan karena tidak menghasilkan limbah buangan, efektif dalam mengubah sampah plastik menjadi energi alternatif, menghasilkan eneri listrik dan bahan bakar minyak yang bisa dimanfaatkan masyarakat pesisir untuk kebutuhan sehari hari (akbar)

Alat ini masih dalam tahap pengembangan untuk memaksimalkan kerja alat sehingga bisa lebih efektif, efisien dan menjadi teknologi tepat guna untuk masyarakat 3 T (Tertinggal, Terluar , Terdepan). (*)

Penulis: CitizenReporter
Editor: Suryana Anas
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help