Dollar Kembali Menguat, Muamalat: Saatnya Penguatan Ekonomi Syariah

Memang diperlukan peranan pemerintah yang sangat besar agar ekonomi syariah ini berkembang.

Dollar Kembali Menguat, Muamalat: Saatnya Penguatan Ekonomi Syariah
Fadhly/tribun-timur.com
Bank Muamalat Cabang Makassar 

Laporan Wartawan Tribun Timur, Muhammad Fadhly Ali

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali melemah pada penutupan perdagangan awal pekan, Senin (2/7/2018).

Berdasarkan data Yahoo Finance, mata uang garuda melemah sebesar 50 poin atau setara 0,35 persen ke posisi Rp 14.375 per dolar AS dari posisi awal perdagangan Rp 14.325 per dolar AS.

Sementara, data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia menunjukkan, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp 14.331 per dolar AS.

Pimpinan Bank Muamalat Wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua), Ahmad S Ilham menuturkan, kendati otoritas moneter kembali menaikkan tingkat suku bunga acuan BI 7 Day Reverse Repo Rate, nyatanya belum banyak berimbas pada pergerakan rupiah.

Baca: Wisata Outbond Kena Imbas Pelemahan Rupiah

"Pelaku pasar masih mencermati perkembangan dari potensi terjadinya perang dagang antara AS dan Tiongkok sehingga permintaan akan mata uang safe haven masih lebih besar," kata Ilham sapaanya yang dihubungi, Senin (2/7/2018) 

Ia menilai, perlu penguatan ekonomi syariah, mengingat ada kepastian di dalam ekonomi syariah.

"Ekonomi riba akan membuat instabilitas ekonomi," katanya.

Memang diperlukan peranan pemerintah yang sangat besar agar ekonomi syariah ini berkembang.

Baca: Kenaikkan BI7DRR Sukses Perkuat Rupiah, Ini Alasannya

"Salah satu penyebab krisis adalah perdagangan komoditi. Dimana hal tersebut tidak dikenal dalam ekonomi syariah," ujar Ilham.

Oleh karenanya, ekonomi syariah dinilai mampu membuat perekonomian negara menjadi stabil.

"Ini terbukti di negara Timur Tengah yang menganut sistem ekonomi syariah dan lembaga perbankan syariah bisa terhindar dari krisis ekonomi dunia," ujarnya.(aly)

Penulis: Muhammad Fadly Ali
Editor: Mahyuddin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved